×

kisah seram tapi lucu

Malam itu hujan turun deras sekali.
David baru saja pulang mengunjungi temannya yang sakit di kota seberang.
Angin bertiup kencang dan udara terasa dingin menusuk tulang.
Sudah sejam dia berdiri di halte bus tapi tidak tampak satu kendaraan pun yang lewat.
Rute jalan ini memang terkenal sepi.
Hanya beberapa orang saja yang berani melewatinya.
Di ujung jalan itu, tepat di bawah kaki perbukitan cadas, ada sebuah tikungan gelap yang membuat semua orang takut melewati jalur itu.
Konon katanya tikungan itu berhantu.
Desas-desus ini sudah bermula dari beberapa puluh tahun yang lalu saat kecelakaan sering terjadi. Tikungan itu sudah memakan banyak korban jiwa.
Jalur di tikungan tajam itu agak menyempit sehingga membahayakan bagi orang-orang yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Menurut penduduk lokal, arwah-arwah penasaran orang-orang yang tewas disitu masih menghantui tikungan itu dan daerah sekitarnya.
David bergidik ngeri. Dia bukan orang yang penakut. Tapi melihat kondisi cuaca seperti ini mau tidak mau dia merasa gentar juga.
Dia sudah sering mendengar cerita-cerita menyeramkan mengenai tikungan itu.
Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa dia sendiri akan mengalami sesuatu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakannya disitu.
Jam hampir menunjukkan pukul dua pagi.
Hujan semakin deras.
David memandang sekeliling jalan yang sepi.
Tirai hujan yang tebal membatasi jarak pandangnya.
Sekitar dua kilometer dari situ, ada sebuah kota kecil yang lumayan ramai.
David berpikir.
Mungkin kalau aku berjalan kesana, aku akan mendapat tumpangan.
Dengan enggan dia lalu berjalan meninggalkan halte yang kosong itu.
Dera hujan yang dingin langsung menyambutnya.
Kabut tebal turun dari atas perbukitan dan menyelubungi seluruh jalan.
Semoga ada mobil yang lewat dan aku bisa sampai ke kota itu, pikir David.
Dia merinding saat tikungan itu semakin dekat.
Tidak ada hantu. Tidak ada hantu, katanya berulang-ulang pada dirinya sendiri.
Tidak beberapa lama kemudian tikungan gelap itu tampak dihadapannya.
Tubuhnya semakin bergetar hebat.
Tidak peduli betapa dia berusaha untuk tidak ketakutan, tapi jantungnya berdebar-debar semakin keras.
Kata orang-orang tikungan itu berhantu.
Mereka sering melihat penampakkan arwah-arwah orang mati disitu.
Bergentayangan dalam gelap.
Menghantui orang-orang yang berani lewat disitu di malam hari.
Saat itu David merasa melihat cahaya samar menembus kabut dengan lemah dari belakang.
Dia menoleh dan melihat siluet samar sebuah mobil yang bergerak pelan ditengah hujan ke arahnya.
Ah, akhirnya, pikir David senang.
Aku mendapat tumpangan juga.
Dia berhenti berjalan dan melambai-lambaikan tangannya ke arah mobil itu.
Kabut dan tirai hujan yang tebal membuatnya mengalami sedikit kesulitan untuk dilihat.
''Hai.... Halo... Disini... Boleh aku ikut menumpang mobil anda'' teriak David.
Tapi suara gemuruh hujan menenggelamkan suaranya.
Saat mobil itu semakin dekat, David yang sudah kedinginan dan ketakutan langsung berlari pelan kearahnya.
Mobil itu melambat sedikit.
David berpikir ini adalah tanda kalau dia diizinkan naik.
Dia lalu membuka pintu mobil itu lalu masuk dan duduk di jok belakang.
Dengan napas terengah-engah dan tubuh kedinginan David menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata.
Oh syukurlah, pikirnya.
Entah apa yang akan terjadi padanya kalau tak seorangpun yang datang.
Mobil itu kembali bergerak.
David membuka mata bermaksud untuk menyapa penyelamatnya.
''Terima kasih, tuan. Saya memang butuh tumpangan ke kota. Saya ta-''
suaranya terputus.
Dia terbelalak ngeri saat melihat ke kursi pengemudi di jok depan.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa disitu.
Napas David tercekat ditenggorokan.
Dia langsung merapat dengan erat ditempatnya.
Tidak ada seorangpun yang mengemudikan mobil itu.
Mobil itu berjalan sendiri.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Bibirnya gemetaran.
Ada kekuatan tidak tampak yang menggerakkan atau membawa mobil ini.
Hantu? Pikir David ngeri.
Dia ingin berlari keluar dari mobil itu.
Tapi tubuhnya seakan-akan terpaku ditempat.
Ketakutan hebat melandanya. Melumpuhkannya. Membuatnya tidak bisa bergerak.
Oh Tuhan... Oh Tuhan, pikir David ngeri.
Tiba-tiba tampak sebuah tangan di kaca jendela belakang mobil itu. Tepat di sampingnya.
Dia terkesiap.
Dua buah tangan tampak menempel erat di kedua jendela mobil itu.
Lalu mobil itu bergerak semakin cepat.
Oh Tuhan, pikir David.
Sekarang dia mengerti.
Rupanya tangan-tangan hantu itulah yang membuat mobil itu bergerak.
Secepat kilat David membuka pintu mobil itu.
Dia lalu melompat keluar dan berlari terbirit-birit menembus hujan dan kabut.
Dia bisa mendengar suara teriakan dan geraman dibelakangnya.
Tolong aku.... Oh Tuhan... Tolong aku, David berdoa dalam hatinya sementara dia berlari sekencang-kencangnya.
Dia tidak berhenti berlari sampai kota berikutnya tampak dihadapannya.
Aku baru saja menumpangi mobil orang mati.
Aku hampir saja mati.
Pikiran-pikiran menyeramkan berputar-putar di kepalanya.
Saat dia memasuki kota dia lalu memperlambat larinya.
Dengan napas terengah-engah dia melangkah masuk ke sebuah bar yang tampak ramai di ujung jalan.
Semua orang langsung menatapnya saat dia masuk.
David tidak peduli.
Yang penting dia selamat.
Dia berjalan ke meja bartender lalu memesan segelas bir.
''Anda baik-baik saja???? Wajah anda pucat sekali'' tanya si bartender sambil menuangkan bir ke gelas David.
''Anda pasti tidak akan percaya pada apa yang baru saja terjadi pada saya'' seru David dengan napas terengah-engah.
Dia lalu menceritakan kejadian menyeramkan di tikungan tadi.
Si bartender tampak merinding mendengar kata-kata David.
''Tikungan itu memang berhantu. Anda beruntung bisa selamat'' katanya sambil menuangkan bir lagi ke gelas David.
Saat itu tiba-tiba dua orang pria bertubuh besar masuk ke dalam bar.
Mereka tampak basah kuyup dan lelah.
Mereka memandang sekeliling dan saat melihat David salah satu dari mereka langsung menggeram kesal.
''Ayah itu dia pria tadi!!!!'' teriaknya marah, telunjuknya tertuju ke wajah David.
''Itu dia pria kurang ajar yang berani masuk ke dalam mobil mogok kita saat kita sedang mendorongnya di tengah hujan!!!!''

top Kembali ke atas