sejarah uang indonesia "RUPIAH"
Loading...
 
posted on WOW Keren
13,552 views
sejarah uang indonesia RUPIAH

Sejarah Uang Indonesia ‘Rupiah’

Keadaan ekonomi di Indonesia pada awal kemerdekaan ditandai dengan hiperinflasi akibat peredaran beberapa mata uang yang tidak terkendali, sementara Pemerintah RI belum memiliki mata uang. Ada tiga mata uang yang dinyatakan berlaku oleh pemerintah RI pada tanggal 1 Oktober 1945, yaitu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda, dan mata uang De Javasche Bank.

Diantara ketiga mata uang tersebut yang nilai tukarnya mengalami penurunan tajam adalah mata uang Jepang.

Peredarannya mencapai empat milyar sehingga mata uang Jepang tersebut menjadi sumber hiperinflasi. Lapisan masyarakat yang paling menderita adalah petani, karena merekalah yang paling banyak menyimpan mata uang Jepang.

Kekacauan ekonomi akibat hiperinflasi diperparah oleh kebijakan Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Letjen Sir Montagu Stopford yang pada 6 Maret 1946 mengumumkan pemberlakuan mata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNEI. Kebijakan ini diprotes keras oleh pemerintah RI, karena melanggar persetujuan bahwa masing-masing pihak tidak boleh mengeluarkan mata uang baru selama belum adanya penyelesaian politik. Namun protes keras ini diabaikan oleh AFNEI. Mata uang NICA digunakan AFNEI untuk membiayai operasi-operasi militernya di Indonesia dan sekaligus mengacaukan perekonomian nasional, sehingga akan muncul krisis kepercayaan rakyat terhadap kemampuan pemerintah RI dalam mengatasi persoalan ekonomi nasional.
Karena protesnya tidak ditanggapi, maka pemerintah RI mengeluarkan kebijakan yang melarang seluruh rakyat Indonesia menggunakan mata uang NICA sebagai alat tukar. Langkah ini sangat penting karena peredaran mata uang NICA berada di luar kendali pemerintah RI, sehingga menyulitkan perbaikan ekonomi nasional.
Oleh karena AFNEI tidak mencabut pemberlakuan mata uang NICA, maka pada tanggal 26 Oktober 1946 pemerintah RI memberlakukan mata uang baru ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai alat tukar yang sah di seluruh wilayah RI. Sejak saat itu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda dan mata uang De Javasche Bank dinyatakan tidak berlaku lagi. Dengan demikian hanya ada dua mata uang yang berlaku yaitu ORI dan NICA. Masing-masing mata uang hanya diakui oleh yang mengeluarkannya. Jadi ORI hanya diakui oleh pemerintah RI dan mata uang NICA hanya diakui oleh AFNEI. Rakyat ternyata lebih banyak memberikan dukungan kepada ORI. Hal ini mempunyai dampak politik bahwa rakyat lebih berpihak kepada pemerintah RI dari pada pemerintah sementara NICA yang hanya didukung AFNEI.
Untuk mengatur nilai tukar ORI dengan valuta asing yang ada di Indonesia, pemerintah RI pada tanggal 1 November 1946 mengubah Yayasan Pusat Bank pimpinan Margono Djojohadikusumo menjadi Bank Negara Indonesia (BNI). Beberapa bulan sebelumnya pemerintah juga telah mengubah bank pemerintah pendudukan Jepang Shomin Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Tyokin Kyoku menjadi Kantor Tabungan Pos (KTP) yang berubah nama pada Juni 1949 menjadi Bank tabungan Pos dan akhirnya di tahun 1950 menjadi Bank Tabungan Negara (BTN). Semua bank ini berfungsi sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah RI. Fungsi utamanya adalah menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat serta pemberi jasa di dalam lalu lintas pembayaran.
Terbentuknya Bank Indonesia
Jauh sebelum kedatangan bangsa barat, nusantara telah menjadi pusat perdagangan internasional. Sementara di daratan Eropa muncul lembaga perbankan sederhana, seperti Bank van Leening di negeri Belanda. Sistem perbankan ini kemudian dibawa oleh bangsa barat yang mengekspansi nusantara pada waktu yang sama. VOC di Jawa pada 1746 mendirikan De Bank van Leening yang kemudian menjadi De Bank Courant en Bank van Leening pada 1752. Bank itu adalah bank pertama yang lahir di nusantara, cikal bakal dari dunia perbankan pada masa selanjutnya. Pada 24 Januari 1828, pemerintah Hindia Belanda mendirikan bank sirkulasi dengan nama De Javasche Bank (DJB). Selama berpuluh-puluh tahun bank tersebut beroperasi dan berkembang berdasarkan suatu oktroi dari penguasa Kerajaan Belanda, hingga akhirnya diundangkan DJB Wet 1922.
Masa pendudukan Jepang telah menghentikan kegiatan DJB dan perbankan Hindia Belanda untuk sementara waktu. Kemudian masa revolusi tiba, Hindia Belanda mengalami dualisme kekuasaan, antara Republik Indonesia (RI) dan Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA). Perbankan pun terbagi dua, DJB dan bank-bank Belanda di wilayah NICA sedangkan “Jajasan Poesat Bank Indonesia” dan Bank Negara Indonesia di wilayah RI. Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949 mengakhiri konflik Indonesia dan Belanda, ditetapkan kemudian DJB sebagai bank sentral bagi Republik Indonesia Serikat (RIS). Status ini terus bertahan hingga masa kembalinya RI dalam negara kesatuan. Berikutnya sebagai bangsa dan negara yang berdaulat, RI menasionalisasi bank sentralnya. Maka sejak 1 Juli 1953 berubahlah DJB menjadi Bank Indonesia, bank sentral bagi Republik Indonesia.

Banyak orang lupa, bahwa Yogyakarta selama empat tahun pernah menjadi ibukota Republik Indonesia. Tepatnya pada 4 Januari 1946 sampai 27 Desember 1949 ibukota Republik Indonesia ada di Yogyakarta.
Berpindahnya ibukota RI saat itu bukan tanpa alasan, situasi Jakarta kala itu dalam kondisi tidak aman dan roda pemerintahan RI macet total akibat adanya unsur-unsur yang saling berlawanan. Di satu pihak masih adanya pasukan Jepang yang memegang satus quo, di pihak lain adanya sekutu yang diboncengi NICA. Singkatnya, situasi Jakarta makin genting dan keselamatan para pemimpin bangsa pun terancam. Atas inisiatif HB IX, ibukota RI berpindah ke Yogyakarta. Hijrah ibukota RI itu merupakan atas nasehat dan prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan dari Yogyalah persoalan politik bangsa dikoordinasikan. Semua itu bisa berhasil dengan baik berkat kepemimpinan HB IX.
Dipilihnya Yogya sebagai ibukota RI karena pandangan politik ke depan dan keberanian Sultan HB IX mengambil resiko. Sehingga dapat dikatakan HB IX dan masyarakatnya merupakan penyambung kelangsungn RI dalam menghadapi agresi militer Belanda. Sri Sultan Hamengkubuwono IX merupakan aktor intelektualis yang memiliki multi status. Selain sebagai Raja, kepala derah, menteri pertahanan, Sultan adalah key person dan juru runding dengan Belanda, juga sebagai figur kunci birokrasi sipil di Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang aslinya bernama G.R.M Dorojatun, sejak diangkat menjadi Sultan 18 Maret 1940, menggantikan ayahnya Sri Sultan HB VIII sudah dekat dengan kalangan rakyat dan tentu saja beliau memahami aspirasi rakyat, termasuk penderitaan dan harapannya semasa penjajahan Belanda dan Jepang.
Karena perpindahan ibukota inilah maka semua uang ORI yang diterbitkan pada tahun 1946 s/d 1949 yaitu seri ORI II, III, IV dan ORI Baru tercantum kata2 Djokjakarta. Bukan lagi Djakarta seperti pada seri ORI I.

Trending Now
Jangan Sepelekan, 7 Hal Ini Ternyata Bisa Bikin Rambut Rontok Lho!

Jangan Sepelekan, 7 Hal Ini Ternyata Bisa Bikin Rambut Rontok Lho!

Bagi wanita, rambut adalah salah satu hal yang sangat berharga, jadi tidak heran jika ada istilah 'rambut adalah mahkota wanita'. Memiliki r
2,624 views 1,129 shares
5 Hal Inspiratif yang Terlihat Saat Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 di Istana Negara

5 Hal Inspiratif yang Terlihat Saat Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 di Istana Negara

Tepat tanggal 17 Agustus 2017 kemarin, seluruh masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke- 72. Upacara Pengibaran Ben
4,908 views 1,765 shares
5 Hal Seru yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Menyambut Hari Kemerdekaan

5 Hal Seru yang Bisa Kamu Lakukan Untuk Menyambut Hari Kemerdekaan

Bulan Agustus adalah bulan yang istimewa bagi negara kita, Indonesia. Pasalnya, setiap tahun pada bulan Agustus kita pasti memperingati Hari
33,158 views 5,679 shares
10 Orang Cerdas yang Bisa Menyelesaikan Masalah Dengan Caranya Sendiri

10 Orang Cerdas yang Bisa Menyelesaikan Masalah Dengan Caranya Sendiri

Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dan mereka akan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah mereka. Lebih istimewa lagi jika kita
13,884 views 3,027 shares
Perbandingan 7 Foto Keren Sebelum dan Sesudah di Edit

Perbandingan 7 Foto Keren Sebelum dan Sesudah di Edit

Di era digital yang serba canggih seperti saat ini apapun bisa dibikin keren Pulsker. Dan yang paling sering adalah foto. Sering kan hampir
14,636 views 1,987 shares
Deretan Realita vs Logika Sinetron yang Nggak Masuk Akal

Deretan Realita vs Logika Sinetron yang Nggak Masuk Akal

Sinema elektronik atau yang lebih akrab disebut dengan sinetron adalah sajian televisi yang sudah akrab dikalangan masyarakat Indonesia seja
67,561 views 4,251 shares
Berbekal Kreativitas dan Imajinasi, Mainan Dinosaurus Ini Nampak Lebih Hidup

Berbekal Kreativitas dan Imajinasi, Mainan Dinosaurus Ini Nampak Lebih Hidup

Dinosaurus adalah binatang purba berukuran raksasa yang ada dalam sejarah peradaban dunia jaman dulu. Kini kita hanya sebatas tau tentang di
3,446 views 657 shares
10 Orang Tua Ini Gagal Paham Saat Menggunakan Teknologi..Kocak Banget!

10 Orang Tua Ini Gagal Paham Saat Menggunakan Teknologi..Kocak Banget!

Dijaman yang serba canggih ini nggak bisa dipungkiri jika kita juga harus mengikuti perkembangan jaman. Dan nggak cuma kita aja Pulsker, mel
33,325 views 1,412 shares
9 Sejarah Ini Ternyata Memiliki Fakta dan Mitos Di Dalamnya!

9 Sejarah Ini Ternyata Memiliki Fakta dan Mitos Di Dalamnya!

Siapa sih yang tidak kenal dengan Cleopatra, Albert Einstein, dan Napoleon? Pastinya sebagian bahkan semua orang tau siapa orang-orang diata
45,049 views 1,150 shares
Bijak Tapi Kocak ! Ini Dia Kumpulan Quote Terbaru Cak Lontong, Salam Lemper !

Bijak Tapi Kocak ! Ini Dia Kumpulan Quote Terbaru Cak Lontong, Salam Lemper !

Di dunia ini sudah terlalu banyak orang pintar, tapi minteri orang. Yang kita butuhkan adalah orang yang mengerti. Mengerti keadaan bangsa,
300,419 views 2,645 shares