Asal Usul dan Sejarah Perkembangan Tempe
Loading...
 
posted on WOW Keren
15,117 views
Asal Usul dan Sejarah Perkembangan Tempe

asal usul

Tempe berwarna keputih-putihan akibat hifa kapang yang melekatkan biji-biji kedelai.

Tidak seperti makanan kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai.

Namun demikian, makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 (Serat Centhini sendiri ditulis pada awal abad ke-19) telah ditemukan kata "tempe", misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Hal ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa"mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.



Kata "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.



Selain itu terdapat rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda. Sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan, seperti singkong, ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji1 kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.



Tempe di Indonesia


Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.



Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Sejumlah penelitian yang diterbitkan pada tahun 1940-an sampai dengan 1960-an juga menyimpulkan bahwa banyak tahanan Perang Dunia II berhasil selamat karena tempe. Menurut Onghokham, tempe yang kaya protein telah menyelamatkan kesehatan penduduk Indonesia yang padat dan berpenghasilan relatif rendah.



Namun, nama 'tempe' pernah digunakan di daerah perkotaan Jawa, terutama Jawa tengah, untuk mengacu pada sesuatu yang bermutu rendah. Istilah seperti 'mental tempe' atau 'kelas tempe' digunakan untuk merendahkan dengan arti bahwa hal yang dibicarakan bermutu rendah karena murah seperti tempe. Soekarno, Presiden Indonesia pertama, sering memperingatkan rakyat Indonesia dengan mengatakan, "Jangan menjadi bangsa tempe."Baru pada pertengahan 1960-an pandangan mengenai tempe ini mulai berubah.



Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an terjadi sejumlah perubahan dalam pembuatan tempe di Indonesia. Plastik (polietilena) mulai menggantikan daun pisang untuk membungkus tempe, ragi berbasis tepung (diproduksi mulai 1976 oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan banyak digunakan oleh Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia, Kopti) mulai menggantikan laru tradisional, dan kedelai impor mulai menggantikan kedelai lokal. Produksi tempe meningkat dan industrinya mulai dimodernisasi pada tahun 1980-an, sebagian berkat peran serta Kopti yang berdiri pada 11 Maret 1979 di Jakarta dan pada tahun 1983 telah beranggotakan lebih dari 28.000 produsen tempe dan tahu.



Standar teknis untuk tempe telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia dan yang berlaku sejak 9 Oktober 2009 ialah SNI 3144:2009. Dalam standar tersebut, tempe kedelai didefinisikan sebagai "produk yang diperoleh dari fermentasi biji kedelai dengan menggunakan kapang Rhizopus sp., berbentuk padatan kompak, berwarna putih sedikit keabu-abuan dan berbau khas tempe".



Tempe di Luar Indonesia


Tempe dikenal oleh masyarakat Eropa melalui orang-orang Belanda. Pada tahun 1895, Prinsen Geerlings (ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda) melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh para imigran dari Indonesia.



Melalui Belanda, tempe telah populer di Eropa sejak tahun 1946. Sementara itu, tempe populer di Amerika Serikat setelah pertama kali dibuat di sana pada tahun 1958 oleh Yap Bwee Hwa, orang Indonesia yang pertama kali melakukan penelitian ilmiah mengenai tempe. Di Jepang, tempe diteliti sejak tahun 1926 tetapi baru mulai diproduksi secara komersial sekitar tahun 1983. Pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti Republik Rakyat Cina, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.

Trending Now
10 Barang Absurd yang Dijual di Online Shop Ini Bikin Nggak Habis Pikir

10 Barang Absurd yang Dijual di Online Shop Ini Bikin Nggak Habis Pikir

Semenjak adanya internet dan smartphone, semua orang bisa menggunakan media sosial dan melakukan jual beli online. Entah sebagai penjual ata
40,745 views 0 shares
10 Status WhatsApp yang Isinya Kocak Banget

10 Status WhatsApp yang Isinya Kocak Banget

WhatsApp adalah aplikasi yang bisa mengirimkan pesan singkat kepada seseorang. Hampir semua orang yang memakai smartphone memakai WA untuk b
2,371 views 0 shares
10 Status Lucu Orang Lagi Liburan yang Bikin Gagal Pahan

10 Status Lucu Orang Lagi Liburan yang Bikin Gagal Pahan

Salah satu hal yang bisa menghilangkan rasa penat adalah liburan. Tapi disaat pandemi seperti saat ini, liburan tinggallah sebuah rencana, k
11,938 views 0 shares
10 Gaya Baju Absurd di Tempat Umum Ini Bikin Kamu Bertanya Tanya Heran

10 Gaya Baju Absurd di Tempat Umum Ini Bikin Kamu Bertanya Tanya Heran

Hak azasi setiap manusia melakukan segala sesuatu yang disukainya asalkan tidak melanggar Undang Undang dan hak azasi orang lain. Bermacam a
16,296 views 306 shares
10 Potret Driver Ojek Online Saat Beristirahat Ini Bikin Terharu

10 Potret Driver Ojek Online Saat Beristirahat Ini Bikin Terharu

Dijaman yang sudah melek teknologi ini, kehidupan kita tentu sangat terbantu. Kita bisa melakukan segala hal hanya dengan mengakses Internet
24,138 views 1,805 shares
10 Komentar Di YouTube yang Lucunya Bikin Mules

10 Komentar Di YouTube yang Lucunya Bikin Mules

YouTube adalah kanal dimana kita bisa melihat berbagai macam video. Siapapun bisa mengunggah videonya di YouTube. Selain itu, kita juga bisa
4,514 views 0 shares
10 Tutorial Nyeleneh yang Ada di Facebook. Mau Meniru?

10 Tutorial Nyeleneh yang Ada di Facebook. Mau Meniru?

Beberapa tahun belakangan ini di internet banyak sekali tutorial-tutorial yang dibagikan unruk memudahkan hidup kita. Hal ini sering disebut
57,923 views 0 shares
8 Momen Kesialan Driver Nemu Uang di Jalan. Kasihan tapi Lucu!

8 Momen Kesialan Driver Nemu Uang di Jalan. Kasihan tapi Lucu!

Rejeki, jodoh dan maut sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kita sebagai manusia hanya perlu berusaha dan berdoa. Ketika kita mendapatkan
2,254 views 0 shares
10 Status Tanya Jawab di Facebook yang Isinya Lucu Banget

10 Status Tanya Jawab di Facebook yang Isinya Lucu Banget

Media sosial saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Buat kita yang aktif bermedia sosial, pasti jika tidak membukanya sehari saj
4,155 views 0 shares
10 Chat Penjual Olshop yang Isinya Iseng Abiss

10 Chat Penjual Olshop yang Isinya Iseng Abiss

semenjak adanya internet dan media sosial, semua orang bisa menjadi penjual dan pembeli online shop. Dan bisa dibilang berbelanja di online
1,546 views 0 shares