Pengemis Terkaya di Indonesia, Mampu Beli Mobil
Loading...
 
posted on WOW Keren
21,144 views
Pengemis Terkaya di Indonesia, Mampu Beli Mobil

Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup

Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya.

Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

***

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya.

Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

***

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan.

***

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.

Trending Now
8 Tulisan Kocak yang Ada di Topi Masa Kini

8 Tulisan Kocak yang Ada di Topi Masa Kini

Melindungi kepala dari panas terik matahari bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Mulai dengan memakai payung atau topi. Di era seperti
9,411 views 494 shares
Deretan Foto Hasil Editan Photoshop dari yang Keren sampai Ngeselin

Deretan Foto Hasil Editan Photoshop dari yang Keren sampai Ngeselin

Semakin berkembangnya teknologi, berdampak pula pada dunia fotografi. Menjamurnya aplikasi edit foto membuat mengutak-atik foto kini semakin
15,190 views 778 shares
Karya Seni Origami Keren yang Terinspirasi dari Tokoh Film Terkenal

Karya Seni Origami Keren yang Terinspirasi dari Tokoh Film Terkenal

Jepang dikenal sebagai salah satu yang kaya akan budaya sejak ribuan tahun lalu. Dan budaya yang masih melekat dan eksis hingga kini adalah
3,377 views 567 shares
Inilah Pemandangan Malam Kota Kota di Dunia yang Sangat Menawan

Inilah Pemandangan Malam Kota Kota di Dunia yang Sangat Menawan

Semua negara mempunyai keistimewaan tersendiri yang bisa dibanggakan dan diperlihatkan pada negara lain. Pemandangannya, kekayaan alamnya, b
2,288 views 134 shares
11 Tingkah Nyeleneh Orang Nggak Ada Kerjaan, Mau Niru Juga?

11 Tingkah Nyeleneh Orang Nggak Ada Kerjaan, Mau Niru Juga?

Manusia memiliki sisi humor berbeda-beda. Ada yang biasa saja hingga luar biasa. Nah, pada tingkatan yang luar biasa inilah mereka terkadang
4,682 views 469 shares
Kocak! 10 Orang Ini Selfie Dengan Latar Belakang yang Nggak Banget

Kocak! 10 Orang Ini Selfie Dengan Latar Belakang yang Nggak Banget

Dijaman yang modern gini, hampir semua orang menggunakan smartphone yang dilengkapi kamera canggih untuk selfie. Dan setiap orang, mulai dar
348,400 views 9,981 shares
Jawaban Imajinatif Netizen dari Penggunaan WC Berbentuk Aneh yang Lagi Viral

Jawaban Imajinatif Netizen dari Penggunaan WC Berbentuk Aneh yang Lagi Viral

Beberapa waktu lalu, dunia maya dihebohkan dengan foto bentuk WC unik Pulsker. Karena tempat air dan klosetnya saling bertolak belakang. Lan
11,071 views 151 shares
Cuma Orang Kaya yang Bisa Ngelakuin 10 Hal Ini, Nggak Punya Duit Jangan Lakuin !

Cuma Orang Kaya yang Bisa Ngelakuin 10 Hal Ini, Nggak Punya Duit Jangan Lakuin !

Siapa sih yang nggak mau jadi orang kaya Pulsker?. Semuanya pasti mau. Karena jadi orang kaya apa-apa terpenuhi gaes. Eits, tapi untuk menja
60,305 views 37,028 shares
Cara Unik yang Dilakukan Gelandangan untuk Mengais Rezeki dari Pejalan Kaki

Cara Unik yang Dilakukan Gelandangan untuk Mengais Rezeki dari Pejalan Kaki

Dunia ini punya banyak cerita kehidupan yang nggak akan ada habisnya gaes. Mulai dari cerita tentang kesuksesan dan kemewahan hingga cerita
9,333 views 1,795 shares
8 Foto Editan Dua Hewan Berbeda Kalau Digabung Jadi Satu

8 Foto Editan Dua Hewan Berbeda Kalau Digabung Jadi Satu

Perkembangan teknologi fotografi saat ini semakin memudahkan kita untuk mengedit foto Pulsker. Dari yang kurang pas dan nggak sesuai selera
16,455 views 2,484 shares