Wonderful Friends: Elder Brother - Part 3
Loading...
 
posted on WOW Keren
963 views
Wonderful Friends: Elder Brother - Part 3

Maaf telat upload

==The Story==

Kami sudah selesai, kemudian seorang pelayan memberikan semacam daftar harga.Perjanjian kami adalah, "Bayar sendiri-sendiri". Jadi, aku akan membayar jus yang kubeli.

Tiba-tiba aku sadar: Aku tidak bawa uang.

Mizu masih meminum minumannya.Saat dia melihat ke arahku, aku memberikan senyuman tak berdosa kepadanya.

"Aku akan bayar tehku.Urus-urusanmu sendiri."Kata Mizu bangkit dari duduknya.

Mizu pergi dan membayar minumannya di kasir.

"AAAAAHHH!!"

Sialan anak itu. Kalau aku bertemu dengannya lagi, akan kuhajar dia sampai seluruh wajahnya berwarna ungu dan hidungnya mengeluarkan darah.

Tapi, kalau sudah begini, aku akan pergi ke kasir dan mengatakan kebenaran. Well, here goes nothing.

Aku pergi ke kasir. "E-etto..anu." Aku mulai bicara. "Aku tadi memesan jus, tapi aku tidak membawa uang. Gomen-ne."

"Oh, tidak apa-apa." Kata kasir. "Tadi ada laki-laki yang membayar jus /////// untuk meja anda."

"Apa? Laki-laki mana?" Tanyaku.

"Laki-laki tinggi dengan rambut hitam tebal." Jawab kasir. "Orang yang duduk bersama anda tadi."

>>>Mizu-kun<<<

Akhirnya aku bisa sendirian juga. Aku tidak tahan kalau berada berduaan bersama seorang cewek. Bagaimanapun juga, entah kenapa sekarang aku merindukannya. Entah itu wajah kecilnya, senyumannya itu atau tarian bodoh yang dia lakukan saat dia tertidur tadi.

"Sora-kun!" Oh, sekarang suaranya.

Jangan bilang itu benar-benar dia.

"Sora-kun. Ini aku!" Lili muncul di depanku.Ya ampun.

"Kau berhasil keluar juga?" Tanyaku.

"Kau ini. Dasar kau! Kau meninggalkanku sendirian! Sebel!" Teriaknya.

"Oh... diamlah." Kataku. "Kau menarik perhatian orang-orang."

"Kau membuatku benar-benar kesal!" Katanya. "Aku sempat mengira kalau aku harus mencuci piring gara-garanya."

"Aku juga turut senang kau tidak benar-benar harus melakukannya." Lanjutku.

Dia pun akhirnya tutup mulut. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya.

"Ngomong-ngomong, Sora-kun." Apaan dia? "Aku berterima kasih karena kau sudah mentraktirku jus."

"Jangan repot-repot." Kataku. "Aku baru-baru ini mendapat banyak uang."

"Banyak uang? Dari mana?" Tanya Lili.

Aku benar-benar malas menjawab. Aku mendiamkannya dan terus berjalan.

"Hei, kau! Jawab a..."

"Whoa!"

Perkataan Lili terpotong oleh ekspresi terkejutku. Aku melihat Haze memasuki sebuah bangunan bersama seorang wanita.

"Bukankah itu Haze-kun?" Tanya Lili.

"Kau bisa bilang begitu." Kataku sambil melihat bangunan itu lebih dekat.

Ternyata itu adalah sebuah bangunan panti asuhan.
Apa yang anak itu lakukan di tempat seperti ini? Kalau kasusnya Haze, aku benar-benar khawatir soal apa yang akan kulihat di dalam.

"Apa yang Haze-kun lakukan di panti asuhan?" Tanya Lili.

"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya." Jawabku.

Aku berjalan mendekati pintu depan. Aku mengetuk pintunya, kemudian seorang wanita membukakan pintu tersebut.

"Selamat petang, bu." Ucapku.

"Selamat sore." Balasnya.

"Umm, kami..."

Belum aku selesai bicara, "Oh, kalian pasti teman Haze-kun." Kata wanita itu. "Masuklah."

Wanita itu membukakan pintu untuk kami. Di dalam, terlihat Haze sedang melihat anak-anak disana bermain. Seketika, dia menoleh ke arah kami.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Haze.

"Aku yang harusnya bertanya seperti itu." Kata Mizu. "Apa yang orang sepertimu lakukan di tempat seperti ini?"

"Dia menolongku saat aku dirampok." Jawab wanita yang membukakan pintu kami. "Ngomong-ngomong, namaku Diana. Aku pemilik panti asuhan ini."

"Aku Lili, atau Littan." Lili memperkenalkan diri.

"Aku Sora. Sora Mizuhashi." Aku juga memperkenalkan diri. "Jadi, barang apa saja yang dia ambil darimu?"

"APA!?" Haze yang mendengar itu tersinggung. "Jagalah perasaanku, kawan."

"Baik. Maafkan aku." Ucapku. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Seperti yang kukatakan." Jawab Diana. "Setelah dia menolongku, dia memintaku mengantarnya ke tempatku, maka disinilah dia."

"Ya. Kau dengar dia?" Tanya Haze.

"Bagaimana aku tahu kau tidak mengarahkan pistol ke punggungnya?" Tanyaku.

"Apa masalahmu, kawan!?"

"Teman-teman." Panggil Lili.

Dia melihat keluar jendela. Diluar, terlihat ada beberapa orang menunggu. Mereka tidak kelihatan ramah. Sama sekali tidak kelihatan ramah.

"Aku urus mereka." Kata Haze sambil melangkah keluar.

"Tidak, Haze!" Kataku sambil menahannya.

"Apa? Kau tidak percaya padaku?" Tanya Haze.

"Bahkan bila yang kau katakan itu benar, aku tidak akan membiarkanmu melawan mereka dengan caramu." Jawabku. "Aku akan coba bicara dengan mereka."

"Bicara!?" Tanya Haze tekejut. "Mereka membawa bambu runcing dan tongkt baseball. Apa kau benar-benar berpikir bisa mengajak mereka bicara?"

"Sudahlah, Haze." Kataku. "Biar kita lakukan ini dengan caraku."

"Caramu, tentu saja."

Aku pun keluar lewat pintu depan. Aku menghitung berapa orang yang ada disana. Aku menghitung, ada sembilan.

"Dimana Diana?" Tanya seseorang yang sepertinya pemimpin mereka.

"Dia pergi keluar angkasa untuk mengalahkan sang kaisar dan menciptakan kedamaian." Jawabku sarkastik. "Tentu saja dia ada di dalam."

"Bagaimana dengan si penyelamat itu? Dia ada disini?" Tanya orang itu lagi.

"Tidak ada penyelamat apapun disini, sobat." Jawabku. "Hanya aku, nona Diana, teman-teman satu sekolahku dan anak-anak."

"Jadi, siapa itu di depan pintu?" Tanya orang itu.

Aku melihat ke belakang. Tidak ada siapapun di depan pintu. Aku pun berbalik.

"Tidak ada siapapun di..."

Tiba-tiba, seseorang memukul wajahku dan mengenai hidungku.Tapi, aku pernah mengalami yang lebih buruk.Aku terjatuh bagaimanapun juga.

"Kelihatannya kau baru disini, nak.Kau belum tahu apa-apa."Kata si ketua itu."Kalian berempat, masuklah."

Empat dari mereka berjalan menuju ke gedung panti asuhan.Aku menahan kaki satu orang dari mereka.

"Kalian tidak pergi lebih jauh kesana sebelum melewatiku." Kubilang.

"Baik." Kata orang yang kutahan kakinya.

Orang itu mengangkat kaki yang satunya lagi ke belakang, kemudian mengayunkannya ke arahku. Sebelum kaki itu mengenaiku, aku menghindar, dan akhirnya orang itu malah menendang betis temannya. Sementara orang yang ditendang temannya sendiri itu kesakitan, aku berdiri. Orang itu mencoba memukulku, aku pun menunduk, dan orang itu malah memukul wajah temannya yang menendangnya tadi. Sementara aku hanya tinggal menendang kaki orang itu sampai dia jatuh.

"Serang dia!"

Satu orang yang membawa kapak berjalan cepat ke arahku. Dia terus bergerak ke kanan dan ke kiri dan aku hanya bisa memastikan dia tetap di depanku dengan terus berputar. Hingga akhirnya kami berada di dua sisi jungkat-jungkit. Dari belakang, aku mendengar teriakkan seseorang. Ternyata seseorang melmpat ke arahku mengangkat kapak. Aku langsung menghindar, orang itu mendarat di bagian jungkat-jungkit yang naik, sehingga sisi lainnya naik dan mengenai selengkangan orang yang ada di sisi lain, yang kuhadapi sebelumnya.

"Ouh..." Aku merasa agak kasihan melihatnya.

Sementara untuk orang yang melompat ke arahku tadi, aku hanya tinggal menginjak sisi lain jungkat-jungkit sehingga sisi lainnya naik dan mengenai dagunya begitu keras.

Masih ada satu lagi yang harus kuhadapi, dan dia membawa belati. Dia terus mengayun-ayun belatinya untuk menyakitiku dan aku terus berjalan mundur untuk menghindarinya. Hingga kakiku menyentuh sesuatu, ternyata sebuah ayunan.

Aku punya ide.
Aku pun menendang ayunan itu ke belakang. Ayunan itu memutar secara vertikal, dan mengenai kepala orang itu, hingga orang itu pingsan.

Akhirnya tinggal tiga orang yang berada di dekat bangunan panti asuhan.

"Masuk ke dalam!" Teriak si ketua.

Mereka bertiga pun lari menuju pintu masuk. Tidak mungkin aku bisa berlari dan menangkap mereka bertiga sebelum mereka berhasil meraih pintu depan. Satu-satunya pilihanku adalah mengeluarkan pistol dengan peredam suara, kemudian menembak ketiga orang itu di kaki secepat mungkin.

Dan... berhasil. Mereka semua terjatuh dengan luka tembakkan di kaki.
Aku menyimpan kembali pistolku.

Aku melihat kembali ke si ketua. Dia berlari, kemudian mencoba memukulku, tapi sebelum itu terjadi, aku menendang ayunan yang tadi kugunakan ke depan, hingga ayunan itu mengenai dagunya dan ayunan itu kembali seperti seharusnya.

Dia masih bisa berdiri. Dia mencoba memukulku, aku menepisnya kemudian mencengkeram lehernya.

"Sepertinya kau yang paling lama di antara mereka. Kau pasti tahu banyak hal." Kubilang masih sambil mencengkeram lehernya. "Mari kita bicara."

<<< Hiko >>>

Aku dan Nata akhirnya berhasil menemukan kantor Felix MacTavish. Pintu depannya terbuat dari kaca dengan sisi-sisi kayu.

"Jadi, sekarang apa?" Tanya Nata.

"Kita ketuk pintunya."

Aku pun mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban.

"Sepertinya tidak ada siapapun." Kata Nata.

"Kita belum mencoba mengetuk tiga kali." Kataku.

Aku mencoba mengetuk pintu lagi, tapi aku tidak memperhatikan kemana aku mengetuk. Ternyata aku mengetuk kepala seorang gadis.

"Oh, eh... maafkan aku." Ucapku.

"Oh, tidak apa-apa." Kata gadis itu sambil mengusap keningnya. "Namaku Project."

"Project? Itu namamu?" Tanya Nata.

"Itu namaku untuk sementara." Jawabnya. "Itu nama yang diberikan tuan MacTavish setelah dia berhasil membuatku."

"Membuatmu?" Tanyaku bingung.

"Oh, ngomong-ngomong, kalian mau menemui tuan MacTavish?" Tanya Project.

"Oh, iya." Jawabku. "Apa dia ada?"

"Ada di kantornya." Jawab Project. "Biar kuantar."

Project mengantar kami berdua ke satu tempat. Disana ada seorang pria berkacamata sedang menulis.

"Tuan MacTavish." Panggil Project kepada pria itu. "Anda dapat tamu."

"Aku tidak menerima tamu." Jawab pria itu.

Project pun berbalik. "Eh, maaf. Sepertinya tuan MacTavish tidak menerima tamu sekarang ini." Ucap Project.

"Tuan MacTavish!" Aku mencoba membujuknya. Aku mengeluarkan benda yang ingin kuperlihatkan padanya. "Kami mau membicarakan soal benda ini."

"Aku sudah bilang. Aku tidak mau..."

Perkataannya terhenti saat melihat benda yang kupegang. Dia berjalan mendekat dan melihat benda itu lebih dekat.

"Dari mana kau dapat benda ini?" Tanya tuan MacTavish.

Trending Now
9 Spanduk Jualan yang Bikin Pembeli Kebingungan

9 Spanduk Jualan yang Bikin Pembeli Kebingungan

Spanduk adalah tulisan yang biasanya ditempel di tempat strategis agar orang-orang bisa melihatnya dengan jelas. Sebenarnya spanduk dibuat e
393 views 0 shares
Sebelum SELFIE di CERMIN, Pastikan Dulu Kondisinya, Kalo Gak Mau Seperti Ini.

Sebelum SELFIE di CERMIN, Pastikan Dulu Kondisinya, Kalo Gak Mau Seperti Ini.

Ada berbagai macam mode dan cara selfie yang jadi budaya masyarakat modern sekarang, salah satunya adalah Mirror Selfie, atau foto di depan
361,264 views 8,211 shares
10 Coretan Dinding yang Bikin Kita Termotivasi

10 Coretan Dinding yang Bikin Kita Termotivasi

Sebagai manusia ada kalanya kita merasa sendiri, malas atau down karena berbagai masalah yang kita hadapi. Ketika masa itu datang, selain so
1,882 views 0 shares
FOTOGRAFI MAYAT Setelah Kematiannya Yang Disetting Seakan Masih Hidup

FOTOGRAFI MAYAT Setelah Kematiannya Yang Disetting Seakan Masih Hidup

pada zaman victoria dahulu, atau pada abad 18an, ada sebuah tren fotografi yang bernama post-mortem photography, dimana jasad orang mati aka
323,212 views 2,138 shares
10 Foto Konyol Dalam Dunia Olahraga

10 Foto Konyol Dalam Dunia Olahraga

Terkadang dalam dunia olahraga ada hal-hal konyol yang menggelikan. Dan ada saja fotografer yang mengabadikannya :D Yap, ini adalah gambar
343,463 views 3,701 shares
10 Meme Bualan Buaya yang Bikin Cewek Nyengir

10 Meme Bualan Buaya yang Bikin Cewek Nyengir

Sudah menjadi steriotip di Indonesia, cowok-cowok yang sukanya gombal, merayu tapi lalu ghosting sering disebut buaya. Entah apa filosofi aw
2,127 views 0 shares
10 Jajanan Warung yang Isinya Bikin Kaget

10 Jajanan Warung yang Isinya Bikin Kaget

Walaupun minimarket sudah bertebaran di kota atau desa pinggiran, hal ini yang membuat semua masyarakat berbelanja di sana. Masih banyak sek
2,142 views 0 shares
10 Benda Buatan Manusia yang Nyaris Nggak Bisa Dihancurkan

10 Benda Buatan Manusia yang Nyaris Nggak Bisa Dihancurkan

Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikiran, untuk bisa menciptakan sesuatu yang berguna. Ada yang bilang kalau nggak ada yang abadi di du
478,746 views 28,183 shares
10 Aktris Cantik Indonesia yang Memiliki Alis Tebal

10 Aktris Cantik Indonesia yang Memiliki Alis Tebal

Penampilan wajah menurut wanita adalah hal yang paling utama. Karena nggak bisa dipungkiri jika kita melihat seseorang, hal utama yang kita
2,031 views 0 shares
10 Tokoh Superhero yang Pernah Main di Sinetron Indonesia. Kocak!

10 Tokoh Superhero yang Pernah Main di Sinetron Indonesia. Kocak!

Sebelum adanya sinetron azab, salah satu stasiun TV Indonesiasering menayangkan sinetron kolosal yang isinya menceritakan tentang kerajaan-k
7,575 views 0 shares