Safe Keeper - Part 6
Loading...
 
posted on WOW Keren
1,668 views
Safe Keeper - Part 6

Jadi inilah part 6 dari Safe Keeper.
Terima kasih atas WOW dan dukungan lainnya. Itu benar-benar membantu.

Sekarang,
enjoy the story...

==The Story==

Part 6: Just In Case

Setelah memberikan kesaksian soal kejadian itu, Amira dan Howard pulang diantar oleh polisi.

Orang tua Amira menunggu di depan.

"Amira? Kau tidak apa-apa?" Tanya Bu Meier.

"Kurasa, begitu." Jawab Amira.

"Bagaimana denganmu?" Tanya Pak Meier kepada Howard.

"Aku juga. Kurasa." Jawab Howard.

"Baguslah kalian berdua baik-baik saja." Kata Bu Meier dengan senyuman lega.

"Terima kasih sudah mengantar anak kami kemari." Ucap Pak Meier kepada para anggota polisi yang mengantar Amira dan Howard.

"Sama-sama." Ucap polisi. "Biarkan mereka berdua menenangkan diri mereka. Terutama putrimu."

"Baik." Jawab Pak Meier.

Para polisi itu pun pergi.

"Kalian berdua beruntung tidak tersakiti sama sekali." Ucap Bu Meier. "Kalian berdua akan kubuatkan makanan. Tapi bersihkan dulu diri kalian."

"Ya."

Amira dan Howard berjalan ke dalam rumah. Sementara itu, sepertinya tuan dan nona Meier mendapat tamu lain.

[FAST FORWARD]

Amira sudah selesai mandi dan berpakaian. Sekarang dia mau keluar untuk makan. Sebelum sampai di meja makan, dia melihat bibinya, pamannya bersama Howard bicara dengan seseorang yang tidak lain adalah RD.

'Apa yang dia lakukan di sini?' Tanya Amira dalam hati.

"Amira! Kemari!" Pak Meier memanggil Amira.

Amira mendekati mereka berempat. Kemudian dia duduk di sebelah Bu Meier, sofa yang terpisah dengan sofa Pak Meier dan Howard yang juga terpisah dengan sofa tempat duduk RD.

"Kami akan tinggalkan kalian di sini." Kata Pak Meier sambil bangkit dari duduknya.

Tuan dan nona Meier pun beranjak pergi, meninggalkan Amira, Howard dan RD bertiga.

"Amira. Sudah sebulan lebih kita tidak bertemu." Ucap RD memulai pembicaraan.

"Ya. Kurasa." Kata Amira sambil menggaruk kepala.

"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Howard.

"Ini soal kejadian Erika yang jatuh dari atap sekolah." Jawab RD.

"Oh, ayolah. Kukira kami sudah mengatakan cukup banyak kepada polisi." Keluh Howard.

"Oh, ayolah. Kukira kalian sadar kalau aku ini bukan polisi." Kata RD. "Tugas kami lumayan lebih... kompleks, namun universal. Kalian tahu maksudku, kan."

Amira dan Howard hanya melotot kebingungan.

"Bisa kita mulai saja?" Tanya RD sambil mengambil buku catatannya.

RD membuka buku catatan itu dan menyiapkan pulpen untuk menulis.

"Apa salah satu dari kalian bertemu dengan Erika hari ini?" Tanya RD. "Maksudku, sebelum kejadian tentunya."

Amira dan Howard bergeleng.

"Tapi, begini..." Amira mulai bicara. "...saat itu Mitha mengajakku bertemu di atap bagian timur sekolah. Tapi, aku belum yakin kalau benar-benar dia yang mengajakku, orang-orang yang mengatakan itu padaku."

'Atap sekolah bagian timur, ya. Disanalah tempat Erika meloncat.' Kata RD dalam hati.

"Kau belum bertemu dengannya lagi hari ini? Maksudku Mitha." Tanya RD.

"Tidak setelah jam istirahat." Jawab Amira.

RD menyadari sesuatu. Mestinya dia lebih dulu mulai dengan Amira, baru melakukan tanya jawab dengan Mitha. Sekarang dia akan harus pergi ke rumah Mitha lagi dan menanyainya soal itu. Mungkin.

"Baik. Kapan terakhir kali kau bertemu dengan Erika?" Tanya RD.

"Kemarin." Jawab Amira.

"Bagaimana dia? Maksudku... kau tahu?"

"Dia seperti setiap hari aku bertemu dengannya." Jawab Amira. "Dia senyum, tertawa, walaupun sedikit bicara dan dia jajan di kantin. Seperti biasa."

'Bukan tanda-tanda orang depresi. Apa berarti aksi bunuh diri ini terjadi begitu saja? Apa benar dia menggunakan PDr sialan itu?' Ucap RD dalam hati.

"Itu juga pertanyaan yang polisi tanyakan kepada kami." Ujar Howard.

"Baiklah. Pertanyaan ini mungkin belum ditanyakan oleh polisi." Kata RD. "Apa kalian menyembunyikan sesuatu dari polisi? Kalau ada, apa yang kalian sembunyikan dari polisi saat sesi tanya jawab kalian?"

Amira terdiam. Sementara itu, Howard memutar bola matanya.

"Polisi juga menanyakan itu pada kami." Kata Howard.

"Eh? Benarkah?" Tanya RD terkejut.

"Kau pikir polisi akan melewatkan pertanyaan seperti itu?" Tanya Howard balik, menjawab pertanyaan RD. "Penyelidik macam apa kau ini?"

'Hey! Don't judge me! Okay?' Kata RD dalam hati.

Kemudian, Andreas masuk dan memanggil Howard, "Bisakah kau bantu aku sebentar?"

Howard pun berjalan keluar rumah untuk membantu Andreas, apapun itu.

"Amira?" Panggil RD. "Apa ada sesuatu yang tidak kau katakan kepada polisi yang ingin kau katakan padaku? Soal kejadian hari ini?"


"Kau tahu? Dulu kakakku pernah menjahiliku seperti ini:..." RD hanya diam mendengarkan perkataan Amira.
"Kakak mengacak lemariku, kemudian dia memperlihatkan sebuah HP yang seakan-akan itu milikku yang dia rebut. Aku memang mengira itu HP-ku, tapi entah kenapa, aku merasa, tidak "give a do" soal itu.

Aku hanya terus membaca, namun kakakku terus memintaku mengejarnya. Aku pun melayaninya. Di satu saat, dia melempar HP itu keluar jendela lantai 2. Aku sempat mengira dia gila melakukan itu. Aku pun kembali ke kamar dan melihat isi laciku, dan jelas, HP-ku ada di dalam sana.

Sebenarnya, aku sudah merasa aku tidak sepantasnya khawatir soal apapun yang dia lakukan di saat pertama. Setelah saat itu pun aku masih membiarkannya mengacak-acak laciku walaupun ada HP-ku di dalamnya."

"Apa kau pernah benar-benar kehilangan HP-mu itu?" Tanya RD.

"Ya. Kakakku meminjam HP-ku saat pergi ke rumah temannya. Saat dia pulang, dia tidak membawa HP-ku. Aku benar-benar marah. Aku berteriak memintanya untuk kembali ke sana dan mengambilnya.

Setelah beberapa saat yang sangat lama, dia belum kembali, dan aku berpikir dia sengaja melakukan ini. Hingga akhirnya dia kembali.

Setelah itu aku benar-benar tidak mau meminjamkan HP-ku kepada kakakku, kecuali kalau orang tuaku memaksaku."

"Kematian Erika, rasanya sama. Benar-benar sama dengan saat kakakku bertingkah seperti itu." Lanjut Amira. "Aku tidak pernah melupakan perasaan itu."

"Mungkin itu hanya pertanda kau percaya kakakmu." Simpul RD.

"Kalau aku percaya padanya "mungkin" aku akan benar-benar panik saat dia mencuri HP-ku. Atau dalam kasus lain, aku malah akan rela HP-ku dipinjam oleh kakakku setelah insiden HP ketinggalan itu." Sanggah Amira.

"Kurasa itu hanya pertanda kau tidak menerima kehilangan sahabatmu." Kata RD lagi.

Amira tertawa. "Kau ini! Untuk apa aku tidak menerima kematian Erika?"

Amira menatap ke arah RD.

"Erika sudah meninggal. Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi soal itu, dan aku tahu itu." Kata Amira. "Tapi, kalau Tuhan mengkehendaki, mungkin kalau aku juga mati, Tuhan akan mempertemukanku lagi dengan Amira."

"Hmm." RD mengangguk mengerti.

"Kalau Tuhan juga mengkehendaki, mungkin aku juga akan bertemu dengan orang tuaku, kakakku dan semua sahabatku. Mungkin kau juga, bersama dengan Alex dan Sania." Lanjut Amira.

"Eh? Kenapa?" Tanya RD.

"Heh? Kau tidak suka dengan yang kuktakan?"

"Tidak, tidak. Aku juga punya agama dan mempercayai adanya Tuhan, dan aku juga percaya dengan teorimu itu." Kata RD. "Jadi, apa itu maksud dari perasaan... kau tahu? Kehilangan yang ternyata palsu itu?"

"Aku tidak bisa berkata banyak, tapi... sepertinya begitu." Jawab Amira.

Mereka berdua terdiam sejenak.

"Baik, ini pertanyaan lain." Kata RD. "Apa ada orang lain yang mendekati tubuh Erika setelah kejadian?"

"Tidak. Kalau kulihat. Sebenarnya, aku memang melihat mayat Erika setiap saat setelah kejadian." Jawab Amira.

"Mm... Oke."

"Kurasa sudah saatnya aku pergi." Kata RD sambil berdiri dari duduknya. "Terima kasih atas kerja samanya, Mir."

"Ya, sama-sama." Ucap Amira.

Mereka berdua berjabat tangan.

"Have a nice evening." Ucap RD.

RD pun berjalan keluar. Dia melihat Howard sedang duduk di teras.

"Kenapa kau diam di sini?" Tanya RD.

"Tidak usah repot-repot. Aku hanya nongkrong." Jawab Howard.

RD berjalan menuju gerbang depan. Tapi, belum dekat dengan gerbang dia berhenti melangkah, kemudian berbalik ke arah Howard.

"Hei, Knight." Panggil RD sambil berjalan ke arah Howard. "Kurasa aku juga akan bergantung padamu untuk melindungi Amira."

Kemudian RD mengambil sesuatu dari saku bagian dalam jaketnya. Ternyata sebuah pistol jenis Glock. Howard terloncat terkejut, hingga dia berdiri.

"Apa-apaan kau ini?" Tanya Howard.

"Aku tahu kau sudah bisa menggunakan kemampuanmu melempar benda tajam sebagai senjata utama, tapi kalau kau mau memberikan sinyal untuk menggertak lawanmu, inilah yang harus kau bawa." Jelas RD. "Just in case."

Howard menarik nafas berat. Dia pun mengambil pistol itu dan menyimpannya di bagian belakang celananya.

"Baik. Kalau kau bilang begitu."

"Anak pintar." Kata RD. "Have a nice evening."

RD beranjak pergi.

[TO BE CONTINUED]

Jadi, inilah akhir part ini.
Terima kasih sudah membaca. Beri WOW kalau suka. Komentar selalu bisa diterima.

And as always,
have a nice day

Trending Now
9 Spanduk Jualan yang Bikin Pembeli Kebingungan

9 Spanduk Jualan yang Bikin Pembeli Kebingungan

Spanduk adalah tulisan yang biasanya ditempel di tempat strategis agar orang-orang bisa melihatnya dengan jelas. Sebenarnya spanduk dibuat e
380 views 0 shares
Sebelum SELFIE di CERMIN, Pastikan Dulu Kondisinya, Kalo Gak Mau Seperti Ini.

Sebelum SELFIE di CERMIN, Pastikan Dulu Kondisinya, Kalo Gak Mau Seperti Ini.

Ada berbagai macam mode dan cara selfie yang jadi budaya masyarakat modern sekarang, salah satunya adalah Mirror Selfie, atau foto di depan
361,242 views 8,211 shares
10 Coretan Dinding yang Bikin Kita Termotivasi

10 Coretan Dinding yang Bikin Kita Termotivasi

Sebagai manusia ada kalanya kita merasa sendiri, malas atau down karena berbagai masalah yang kita hadapi. Ketika masa itu datang, selain so
1,871 views 0 shares
FOTOGRAFI MAYAT Setelah Kematiannya Yang Disetting Seakan Masih Hidup

FOTOGRAFI MAYAT Setelah Kematiannya Yang Disetting Seakan Masih Hidup

pada zaman victoria dahulu, atau pada abad 18an, ada sebuah tren fotografi yang bernama post-mortem photography, dimana jasad orang mati aka
323,185 views 2,138 shares
10 Foto Konyol Dalam Dunia Olahraga

10 Foto Konyol Dalam Dunia Olahraga

Terkadang dalam dunia olahraga ada hal-hal konyol yang menggelikan. Dan ada saja fotografer yang mengabadikannya :D Yap, ini adalah gambar
343,448 views 3,701 shares
10 Meme Bualan Buaya yang Bikin Cewek Nyengir

10 Meme Bualan Buaya yang Bikin Cewek Nyengir

Sudah menjadi steriotip di Indonesia, cowok-cowok yang sukanya gombal, merayu tapi lalu ghosting sering disebut buaya. Entah apa filosofi aw
2,117 views 0 shares
10 Jajanan Warung yang Isinya Bikin Kaget

10 Jajanan Warung yang Isinya Bikin Kaget

Walaupun minimarket sudah bertebaran di kota atau desa pinggiran, hal ini yang membuat semua masyarakat berbelanja di sana. Masih banyak sek
2,125 views 0 shares
10 Benda Buatan Manusia yang Nyaris Nggak Bisa Dihancurkan

10 Benda Buatan Manusia yang Nyaris Nggak Bisa Dihancurkan

Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikiran, untuk bisa menciptakan sesuatu yang berguna. Ada yang bilang kalau nggak ada yang abadi di du
478,736 views 28,183 shares
10 Aktris Cantik Indonesia yang Memiliki Alis Tebal

10 Aktris Cantik Indonesia yang Memiliki Alis Tebal

Penampilan wajah menurut wanita adalah hal yang paling utama. Karena nggak bisa dipungkiri jika kita melihat seseorang, hal utama yang kita
2,025 views 0 shares
10 Tokoh Superhero yang Pernah Main di Sinetron Indonesia. Kocak!

10 Tokoh Superhero yang Pernah Main di Sinetron Indonesia. Kocak!

Sebelum adanya sinetron azab, salah satu stasiun TV Indonesiasering menayangkan sinetron kolosal yang isinya menceritakan tentang kerajaan-k
7,571 views 0 shares