Safe Keeper - Part 8
Loading...
 
posted on WOW Keren
1,886 views
Safe Keeper - Part 8

Bersiaplah, pembaca PULSK-ers, part ini sangat kompleks dan rumit.

Btw, terima kasih atas support-nya. Itu benar-benar membantu.

Kalau kalian ingin lebih banyak, ubah saja tombol WOW yang ada di atas artikel ini jadi oranye.

And... enjoy...

==The Story==

"Penyangga hidup?" Sania kebingungan. "Aku tidak salah dengar?"

"Aku tidak benar-benar bermaksud begitu. Maksudku, bila benda ini mati, maka kemungkinan besar metabolisme tubuhnya akan terhenti, dan tubuhnya akan kehilangan energi listrik." Jelas Aiden.

"Apa yang benda ini lakukan?" Tanya Farrell.

"Hampir semuanya." Jawab Aiden sambil mengambil sesuatu di sebuah laci. Sejenis chip. "Membuat jantung terus berdetag, mengalirkan darah, dan membiarkan terjadinya reaksi kimia dalam tubuh."

"Jadi, benda ini. Maksudku, kematian benda ini yang menyebabkan kematian Erika?" Tanya Farrell.

"Bisa jadi." Jawab Aiden. "Sayang sekali, kan. Kematian orang semuda Erika bisa diatur dengan satu pencetan remote."

Mereka semua terdiam.

"Tunggu! Kau bilang pencetan remote?" Tanya Sania.

"Ya. Itulah yang kukatakan." Jawab Aiden.

"Maksudmu, benda ini bisa diatur dari jarak jauh?"

"Ya."

"Jadi kau mengatakan kalau Erika kehilangan nyawanya bukan karena jauh dari atap sekolah, tapi karena seseorang memencet tombol agar dia mati?" Tanya Farrell.

"Aku tidak bilang begitu." Jawab Aiden. "Aku hanya bilang kalau itu bisa terjadi."

Farrell dan Sania mengangguk mengerti.

"Tapi aku menemukan satu hal yang baru." Kata Aiden.

Dia mengambil sebuah remote, kemudian dia memutar sebuah video di TV yang tergantung di dinding ruangan itu.

Rekaman itu menunjukkan proses otopsi. Aiden mempercepat rekaman itu ke menit 20. Disana ditampilkan saat chip tersebut dikeluarkan dari tubuh Erika. Di menit 20:11, Aiden mem-pause video-nya.

"Kalian lihat itu?" Tanya Aiden.

"Itu apa?" Tanya Sania balik.

"Sebentar."

Aiden memutar balik videonya 5 detik. Dia memainkannya lagi, kemudian mem-pause-nya sekitar 2 frame lebih cepat.

"Lihat cahaya biru di chip itu?" Tanya Aiden.

Farrell dan Sania melihat lebih dekat. Ada sedikit cahaya kecil berwarna biru di atas chip tersebut.

"Dari mana cahaya itu berasal?" Tanya Sania.

"Dari sini." Jawab Aiden sambil menunjuk satu titik di atas chip itu. Terlihat seperti bekas bola lampu yang tertempel disana dan pecah.

"Apa yang membuatnya pecah?" Tanya Farrell.

"Mungkin aku kurang hati-hati mengeluarkan benda itu. Lampu ini pecah oleh gesekkan pinsetku." Jawab Aiden. "Aku menemukan sedikit bekas bola lampu birunya di tempat aku mengambil chip tersebut."

"Jadi, apa maksud cahaya biru itu?" Tanya Farrell.

Aiden menaruh remote itu di meja kerjanya, kemudian duduk di sebuah kursi sambil berpikir.

"Cahaya itu menandakan kalau fungsi "self-neutralize" sedang aktif." Jawab Aiden.

"Self-neutralize?" Farrell kebingungan.

"Apa kedengarannya seperti yang kupikirkan?" Tanya Sania.

"Kalau yang kau pikirkan adalah fungsi untuk membunuh diri sendiri, kau benar." Jawab Aiden.

Farrell dan Sania terdiam mendengarnya.

"Apa benda ini benar-benar bisa bekerja?" Tanya Farrell.

"Terbukti." Jawab Aiden. "Hanya saja mereka sudah menghapus dan mengilegalkan fungsi ini sejak setahun yang lalu."

"Tapi, bagaimana mungkin masih ada?" Tanya Sania.

"Itu masih jadi misteri." Jawab Aiden. "Lagipula, cara mereka menghapus fungsi itu hanyalah dengan menghilangkan activator fungsi itu dari remotenya."

Farrell dan Sania merasa bingung campur terkejut. Mereka tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.

"Jadi, kau bilang seseorang mengaktifkan self-neutralize untuk Erika sehingga dia loncat dari atap?" Tanya Sania.

"Ya, memang begitulah kelihatannya." Jawab Aiden.

Farrell dan Sania pun mengerti. Kemungkinan besar fungsi self-neutralize pada chip itulah yang membuat Erika loncat dari atap sekolah.

"Mau tahu fakta yang lebih greget?" Tanya Aiden.

Farrell dan Sania menatap ke arah Aiden.

"Benda ini... chip ini baru pertama dibuat 15 bulan yang lalu."

***

Sementara Farrell dan Sania mengobrol dengan Aiden, RD mengajak Martin melihat-lihat tempat kejadian ditemani oleh satpam sekolah.

"Dari mana Erika loncat?" Tanya Martin.

"Dari sini." Jawab RD menunjuk satu titik di sisi bangunan yang sempit di balik pagar setinggi 1 meter tersebut.

"Kau yakin?"

"Bisa dibilang begitu." Jawab RD. "Menurut petunjuk yang kutemukan."

"Kau sudah coba berdiri di sisi di balik pagar ini?" Tanya Martin.

"Tidak terpikir sama sekali." Jawab RD.

Martin pun melompat melewati pagar kemudian mendaratkan kakinya di lantai bagian bawah pagar. Saat dia melangkahkan satu kakinya lebih ke depab, tiba-tiba...

BRUKK!!

Sisi bangunan yang dipijaknya runtuh. Martin yang hampir terjatuh langsung kembali ke zona aman dibantu RD dan satpam sekolah.

"Aku lupa mengatakan pada kalian. Sisi bangunan bagian ini memang mudah runtuh." Kata satpam sekolah.

"Oh, begitu."

"Seminggu yang lalu ada seekor kucing yang loncat ke bagian lain dari sisi depan pagar, kemudian kucing itu jatuh karena bagian sisi bangunan yang runtuh. Untung rekanku bisa menangkap kucing itu." Jelas satpam sekolah.

RD melihat lebih ke kanan. Memang ada bagian sisi bangunan yang kelihatannya runtuh.

"Apa yang terjadi?" Tanya Martin.

"Aku tidak begitu mengerti, tapi begitulah kenyataannya." Jawab satpam sekolah.

RD menepuk pundak Martin.

"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya RD.

Mereka berdua pun berjalan lebih tengah ke atap sekolah.

"Kau memikirkan apa yang kupikirkan?" Tanya RD.

"Perawatan gedung ini tidak begitu baik." Kata Martin.

"Ya, itu salah satunya." Kata RD. "Juga, apakah kau sadar? Seekor kucing saja bisa jatuh, apalagi manusia."

"Aku tahu. Aku hanya memijakkan kakiku sedikit ke bagian itu." Kata Martin. "Aku mencoba melangkahkan kakiku yang satunya lagi ke depan, dan kemudian kaki satunya lagi membuat sisi bangunan runtuh."

"Mungkin dia tidak benar-benar lompat dari sisi bangunan." Kata RD. "Mungkin kakinya ada di bagian lantai di bawah pagar. Kau mengerti maksudku, kan?"

"Ya." Jawab Martin. "Tapi bagaimana dia bisa lompat sampai sejauh 10 meter. Semua orang harus menunduk paling tidak beberapa derajat ke belakang untuk melakukan lompatan itu, bahkan dari titik setinggi ini."

"Apa yang kau coba katakan?" Tanya RD.

"Pagar itu menghalangi siapapun yang memijakkan kakinya di bawahnya untuk menunduk bahkan 10 derajat sekalipun." Jawab Martin.

RD meneliti pagar itu sekali lagi. Pagar itu terbuat dari besi, terlihat seperti pagar pada umumnya, dengan banyak besi disimpan secara vertical dan satu besi yang dipasang horizontal dan memanjang. Di antara besi yang dipasang horizontal dengan lantai di bawahnya terdapat semacam pembatas yang sepertinya untuk menjaga agar tidak ada orang bodoh yang mencoba melewati pagar lewat bawah pagar. Tapi sayang sekali, seseorang masih bisa melewatinya dari atas pagar.

Pembatas yang ada di antara kedua titik itu punya sedikit celah di bawahnya. Celah itu bisa membiarkan seseorang yang berada di luar pagar untuk berdiri di bawahnya, namun hanya cukup untuk kaki bagian belakang saja, tidak lebih. Dengan itu, siapapun yang mencoba untuk menunduk atau membuat posisi jongkok, maka pinggulnya akan terhalangi oleh pembatas tersebut, atau kemungkinan besar terpeleset dan jatuh dengan meninggalkan bagian sisi gedung yang runtuh.

Dengan pagar seperti ini, tidak akan ada yang bisa menunduk dan membuat lompatan sejauh itu.

"Jadi, kesimpulannya?" Tanya Martin.

"Dia mungkin meloncat dari atas pagar." Jawab RD.

"Dengan pagar seperti ini siapapun mungkin akan terpeleset sebelum bisa membuat lompatan." Kata Martin.

"Kecuali, kalau Erika terpeleset kedepan, kemudian dia memberikan tekanan dengan kakinya, dengan menendang ke pembatas tersebut."

Martin garuk-garuk kepala.

"Tapi apa mungkin?" Tanya Martin.

"Aku tidak yakin." Jawab RD. "Tapi Amira bilang dia tidak mendengar suara aneh lain di saat kejadian."

"Kalau Erika membuat tendangan seperti itu untuk lompatan sejauh 10 meter, pasti suara itu akan terdengar seperti tembakkan pistol dari bawah, dan benar-benar terdengar." Kata Martin.

"Aku tahu." Kata RD.

Mereka berdua berpikir sejenak.

"Apa seseorang melempar Erika dari atas?" Tanya Martin.

RD diam sejenak, "Butuh kekuatan yang sangat, sangat besar untuk melempar seorang gadis sejauh itu. Bahkan dari titik setinggi ini." Kata RD.

Mereka berdua diam dan berpikir.

"Mmm... kalau boleh kubantu..." Kata satpam sekolah.

"Silahkan." Kata RD.

"Kurasa aku tahu siapa yang bisa melakukan, apa yang kau katakan." kata satpam.

"Ya, siapa?"

[TO BE CONTINUED]

Inilah akhir part-nya.
Mungkin terlalu gaje bagi seseorang, itu hanya bagaimana saya menggambarkan sesuatu.

Terima kasih sudah membaca. Beri WOW kalau suka, komentar selalu bisa dihargai.

And as always,
have a nice day

Trending Now
9 Spanduk Jualan yang Bikin Pembeli Kebingungan

9 Spanduk Jualan yang Bikin Pembeli Kebingungan

Spanduk adalah tulisan yang biasanya ditempel di tempat strategis agar orang-orang bisa melihatnya dengan jelas. Sebenarnya spanduk dibuat e
213 views 0 shares
Sebelum SELFIE di CERMIN, Pastikan Dulu Kondisinya, Kalo Gak Mau Seperti Ini.

Sebelum SELFIE di CERMIN, Pastikan Dulu Kondisinya, Kalo Gak Mau Seperti Ini.

Ada berbagai macam mode dan cara selfie yang jadi budaya masyarakat modern sekarang, salah satunya adalah Mirror Selfie, atau foto di depan
360,944 views 8,211 shares
10 Coretan Dinding yang Bikin Kita Termotivasi

10 Coretan Dinding yang Bikin Kita Termotivasi

Sebagai manusia ada kalanya kita merasa sendiri, malas atau down karena berbagai masalah yang kita hadapi. Ketika masa itu datang, selain so
1,782 views 0 shares
FOTOGRAFI MAYAT Setelah Kematiannya Yang Disetting Seakan Masih Hidup

FOTOGRAFI MAYAT Setelah Kematiannya Yang Disetting Seakan Masih Hidup

pada zaman victoria dahulu, atau pada abad 18an, ada sebuah tren fotografi yang bernama post-mortem photography, dimana jasad orang mati aka
322,981 views 2,138 shares
10 Foto Konyol Dalam Dunia Olahraga

10 Foto Konyol Dalam Dunia Olahraga

Terkadang dalam dunia olahraga ada hal-hal konyol yang menggelikan. Dan ada saja fotografer yang mengabadikannya :D Yap, ini adalah gambar
343,366 views 3,701 shares
10 Meme Bualan Buaya yang Bikin Cewek Nyengir

10 Meme Bualan Buaya yang Bikin Cewek Nyengir

Sudah menjadi steriotip di Indonesia, cowok-cowok yang sukanya gombal, merayu tapi lalu ghosting sering disebut buaya. Entah apa filosofi aw
2,012 views 0 shares
10 Jajanan Warung yang Isinya Bikin Kaget

10 Jajanan Warung yang Isinya Bikin Kaget

Walaupun minimarket sudah bertebaran di kota atau desa pinggiran, hal ini yang membuat semua masyarakat berbelanja di sana. Masih banyak sek
1,864 views 0 shares
10 Benda Buatan Manusia yang Nyaris Nggak Bisa Dihancurkan

10 Benda Buatan Manusia yang Nyaris Nggak Bisa Dihancurkan

Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikiran, untuk bisa menciptakan sesuatu yang berguna. Ada yang bilang kalau nggak ada yang abadi di du
478,604 views 28,183 shares
10 Aktris Cantik Indonesia yang Memiliki Alis Tebal

10 Aktris Cantik Indonesia yang Memiliki Alis Tebal

Penampilan wajah menurut wanita adalah hal yang paling utama. Karena nggak bisa dipungkiri jika kita melihat seseorang, hal utama yang kita
1,936 views 0 shares
10 Tokoh Superhero yang Pernah Main di Sinetron Indonesia. Kocak!

10 Tokoh Superhero yang Pernah Main di Sinetron Indonesia. Kocak!

Sebelum adanya sinetron azab, salah satu stasiun TV Indonesiasering menayangkan sinetron kolosal yang isinya menceritakan tentang kerajaan-k
7,527 views 0 shares