Cancer (revision)
Loading...
 
posted on WOW Keren
905 views
Cancer (revision)

Halo, Tachi di sini. Pas di Love Life Lie Tachi bilang mau ngerevisi Cancer, alias memperbaharui cerita ntuh.

Kita coba ya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Daun melayang turun dari tangkainya. Matahari sudah tinggi, tapi musim gugur itu tetap dingin seperti biasanya. Dan aku tahu itu pasti akan mempersulit seseorang untuk beranjak dari ranjangnya, kecuali kalau dia adalah orang yang benar-benar berniat untuk bangun.

"Sakumaaa! Banguuun! Mau sekolah nggaak?" Aku mendengar teriakan ibu dari dapur, tapi aku yakin kau tahu aku bukanlah orang yang berniat untuk bangun. Jadi, aku mengacuhkannya.

"Jam berapa, sih?" gumamku malas-malasan. Waktu di jam digital membuatku mataku yang setengah terbuka membeliak lebar. ! Berarti, beberapa menit lagi sekolah dimulai! Mati aku!

Secepat kilat, aku menyambar seragam sembari menyikat gigiku dan menyisir rambut sembari mengikat tali sepatu. Ribet, memang. Tapi aku sudah biasa melakukannya sejak dulu.

"Pergi, ma!" Yah, aku tahu ibuku berteriak 'Kau-belum-sarapan!' Tapi aku tahu ia akan lega ketika tahu aku sempat menyambar sehelai roti gandum dan sebotol yoghurt.

Nampaknya aku sial hari ini. Bus melaju tepat saat aku mencapai halte. "Stop! Pak!" Yah, agaknya ia tak mendengarkanku. Bus melaju makin kencang. Aku, sebagai anak yang terkadang terlalu percaya diri, mengejarnya.

Tiba-tiba, pandanganku mengabur. Tapi, rasanya berbeda dengan saat akan pingsan (aku pernah pingsan sekali, dan rasanya berbeda dibandingkan saat ini). Daripada mengabur, lebih tepatnya berbayang, sih.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menyingkirkan pandanganku yang kabur. "Daripada memikirkan hal yang tak berguna," Aku berbicara pada diriku sendiri, "lebih baik aku berlari ke sekolah."
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Ohayou, Beruang! (dalam bahasa jepang, beruang:kuma)" Aku menoleh, mendapati sosok dari seorang gadis tinggi semampai bersurai emas selembut sutra tengah menatapku dengan sepasang mata rubynya yang indah.

"Ohayou, Dewi Cinta!" Ia tertawa kecil, memamerkan deretan mutiara putihnya. "Jangan begitu. Aku jadi tersanjung," Aku nyengir, mengimbangi langkahnya memasuki gerbang sekolah.

"Nanti sore ada pertandingan antarkelas, hm?" Aku mengangguk, mengiyakan. "Aku harus ke ruang agama sebentar, kau masuk kelas saja dulu. Ada perangkat yang harus kubawa."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Hei, tim kita siap?" Oh, ya. Aku lupa. Gadis tadi pagi itu bernama...siapa, ya? Ia lebih dikenal dengan panggilannya, Aphrodi, yang diambil dari kata Aphrodite, dewi cinta.

Kenapa? Itu sebenarnya panggilan dari anak-anak laki-laki, sih. Menurut mereka, ia sangat cantik. Haha, oke, dia cantik. Tapi, menurutku Angelina Jolie atau Julia Roberts lebih cantik. Hah, lupakanlah apa yang baru saja kukatakan. Aku hanya melantur.

"Kau jadi forward, ya?" Aphrodi menendang pelan bola ke arahku. Rambutnya yang sepanjang paha diikat tinggi-tinggi. Aku mengangguk walau ragu. Well, tak ada salahnya.

Peluit dibunyikan, tanda pertandingan dimulai. Sepak bola putri memang cukup populer di sekolahku. Sebenarnya, nih, sekolahku dengan Aphrodi itu berbeda, tapi ada di satu bangunan. Aneh, memang.

"Ayo, kau saja yang menggolkan!" Aku menerima bola itu dari Aphrodi, dan bersiap untuk melakukan gerakan umpan, ketika tiba-tiba, pandanganku kabur kembali.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan mataku?
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kenapa kau tadi?" Aku menggeleng, tak tahu. "Mana kutahu. Tiba-tiba pandanganku kabur sendiri. Apa aku sakit, ya?" Aphrodi menepuk pundakku. "Kau harus ke dokter."

"Tak perlu," Aku melepas seragam olahragaku. "Aku tak apa, kok," Ia menghela nafas. "Kalau pandanganmu kabur tanpa rasa pusing, itu berarti ada masalah dengan matamu," Akhirnya, aku menyerah dan setuju.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Nah, bisa kau biarkan aku dan ayahmu bicara sebentar, untuk berdua saja?" Aku melangkah keluar dari ruanan, walau daun telingaku menempel di pintu, menguping.

Awalnya hening, hingga akhirnya tiba-tiba terdengar teriakan ayah dari dalam ruangan. Teriakan yang menjelaskan semuanya, mengapa pandanganku mengabur.

"Apa? Bagaimana bisa anak seperti dia terkena kanker, dokter?!"

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Mulai hari ini kamu tidak usah sekolah, ya," Aku mendengar nada membujuk dari suara ibu, dan raut wajahnya menunjukkan belas kasihan. Aku yakin, ibu dan ayah tak tahu kalau aku mnguping pembicaraan mereka.

"Ma, aku sudah tahu kok, kalau aku kanker. Tak usah diberitahu," Secara mengejutkan, ibu memelukku secara spontan dengan berurai air mata. Ia tak pernah melakukan hal ini sebelumnya.

"Tak apa, ma. Aku tak apa," Aku memang menenangkannya. Tapi, hatiku tetap bergejolak. Aku tahu, aku tahu. Aku bukanlah tipe orang yang suka membujuk.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Aku mau kau menemaniku," Aphrodi mendesah khawatir di seberang sana. "Bukanah kau perlu banyak istirahat?" Aku tetap bersikeras agar dia datang, dan pada akhirnya, Aphrodi menyerah.

"Maaf kalau aku egois," ucapku saat ia datang. Ia hanya memandangi wajahku. "Ahoy, pelaut!" serunya. "Jangan begitu. Aku melakukan ini agar kau tidak ketakutan." Aphrodi tertawa. "Kenapa aku harus takut, sih?"

"Oh, mata kananku mengerikan!" Aku berhenti sejenak. "Aku juga tak tahu kenapa bisa begini," Ia menutup pintu. "Ah, memang seseram apa, sih?" Dan ia, menarik paksa eyepatchku. Aku, sih, bukannya parah, ya. Cuma gerakannya terlalu cepat.

Ia memekik saat melihat wujud dari mata kananku itu. Membengkak dengan begitu dahsyat hingga berwarna ungu kemerahan. Menyeramkan, hn?

"Inilah mengapa aku menyembunyikannya darimu!" Aphrodi mulai tenang, buktinya ia mulai duduk di sampingku dengan perlahan-lahan, walau nafasnya pendek-pendek dan masih tersengal-sengal.

"Maaf," Aku menggeleng. "Tak apa, kok. Hm, aku sesungguhnya bosan," Ia mengeluarkan ular tangga dari tas jinjing merahnya. "Sudah kuduga kau akan berkata bergitu."

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bulan purnama bersinar terang, memamerkan sinar pualamnya pada Bumi dengan congkak. Walau ia harus tahu dan mengerti, cahayanya terabaikan oleh manusia karena eksistensi dari matahari-matahari kecil yang menyinari jalan dan rumah. Lampu.

"Aku pulang dulu, ya," Aphrodi melambaikan tangannya padaku. Dengan langkah-langkah ringan, ia berjalan keluar ruangan menuju jalan raya.

Memastikan tidak ada kendaraan yang lewat, ia menoleh ke kiri dan kanan jalan, barulah melangkahkan kedua tungkainya ke seberang. Tapi, mungkin takdir akan berkata lain.

Sebuah truk pengangkut pasir hilang kendali untuk beberapa detik. Sayangnya, detik-detik menegangkan itu pada saat yang tidak tepat. Yaitu saat yang bertepatan dengan Aphrodi di tengah jalan.

Ya, aku tahu sang supir pasti berteriak panik, ketika ia sadar bahwa seharusnya ia minum kopi agar tak mengantuk dan membiarkan truknya oleng saat ia menutup mata untuk beberapa detik.

Darah memancar dari tubuh Aphrodi. Yang aku dengar keesokan harinya, kepalanya berdarah dan ia terluka begitu berat hingga darahnya memancar keluar dari tubuhnya yang terkoyak, tak ubahnya seperti air mancur darah. Wah, aku ini terlalu frontal.

Kau pikir aku mengatakannya dengan begitu frontal berarti aku senang? Oh, kau salah besar. Aku benar-benar terpukul dengan kepergiannya. Aku sempat menangis, walau aku berusaha menyembunyikannya.

Tapi, aku tahu. Tak penting apakah aku masih bisa membuka mata. Aku hampir pupus harapan. Kalaupun aku harus pergi, aku percaya itulah takdirku, dan aku menerimanya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Stadium tiga," ucap dokter itu. Aku mendengar ibu menangis tersedu-sedu, sementara ayah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Sedangkan aku? Aku hanya bisa membujur di ranjang rumah sakit. Aku terlalu lemas untuk beranjak. Kemotherapi agaknya yang menyebabkanku begini. Rambutku rontok karenanya juga. Walau tidak sampai benar-benar habis, sih.

"Aku tak tahu kapan aku bisa bertahan," ucapku dengan suara parau. "Aku yakin ini saatnya."

Ibu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku akan bertahan. "Tak apa ma," Aku berusaha tersenyum. "Ada kakak yang lebih penting dari aku,"

Aku menutup kedua mataku, mengistirahatkan mataku yang kelelahan. "Ma, terimakasih," Nafasku mulai memendek. "Aku takut aku takkan sempat mengucapkan itu."

Ucapanku benar. Aku merasa tubuhku tak mampu lagi memproses oksigen dalam ragaku ini. Terasa sesak untuk beberapa detik, sebelum akhirnya tubuhku terasa ringan. Aku tak merasa apapun lagi.

"Ayo, ikutlah denganku, Sakuma!" Aku membua mataku, mendapati sesosok malaikat bersayap putih. Rambutnya yang keemasan melambai dengan lembut.

"Kau mirip dengan Aphrodi," bisikku pelan. Ia tersenyum lembut, mengulurkan tangannya padaku. "Kau tak perlu heran, aku memang orang yang kau sebutkan itu."

Dan, aku terbang, mengikutinya menuju alam yang tak dapat direngkuh oleh gapaian tangan manusia.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hyuh, selesai juga cerita revisinya! Well, bye-bye!

Trending Now
10 Foto Review Barang Olshop yang Bikin Ngakak

10 Foto Review Barang Olshop yang Bikin Ngakak

Ketika kita belanja online melalui e-commerce, pada aplikasinya ada kolom komentar yang bisa kita isi tentang kepuasan barang yang telah kit
928 views 0 shares
9 Kebaya ala Aurel Hermansyah yang Bisa Menginspirasimu

9 Kebaya ala Aurel Hermansyah yang Bisa Menginspirasimu

Kebaya adalah busana wanita khas tradisional Indonesia. Walaupun saat ini sudah modern,namun dalam beberapa acara formal seperti pernikahan
2,345 views 0 shares
10 Jawaban Nyeleneh Siswa Saat Ujian yang Bikin Tepuk Jidat

10 Jawaban Nyeleneh Siswa Saat Ujian yang Bikin Tepuk Jidat

Sudah menjadi kewajiban para siswa mengikuti ujian setelah mempelajari materi yang diberikan oleh para guru. Biasanya soal-soal yang diberik
9,022 views 0 shares
11 Chat Lucu pakai Bahasa Kekinian ini bikin Auto Ngakak cekikikan

11 Chat Lucu pakai Bahasa Kekinian ini bikin Auto Ngakak cekikikan

Dijaman sekarang ini semakin lama makin banyak bahasa gaul kekinian yang banyak istilah aneh-aneh. Kalau kita sendiri gak update bakal banya
351,587 views 0 shares
14 Tempat Wisata Indonesia yang Mirip & Gak Kalah Indah Dari Luar Negeri

14 Tempat Wisata Indonesia yang Mirip & Gak Kalah Indah Dari Luar Negeri

Piknik dan Travelling saat ini nampaknya jadi Kebutuhan setiap orang, banyak yang ingin travelling ke luar negeri tapi kadang terhambat peng
343,325 views 13,351 shares
10 Meme Tentang Foto Benda Bisa Menggoda Orang Lagi Puasa

10 Meme Tentang Foto Benda Bisa Menggoda Orang Lagi Puasa

Kekurangan nutrisi pada tubuh memang membuat kita jadi lemas dan lunglai. Apalagi ketika kita menjalankan ibadah puasa seperti sekarang ini.
722 views 0 shares
10 Foto Nyeleneh Tidur di Warnet yang Serasa Rumah Sendiri

10 Foto Nyeleneh Tidur di Warnet yang Serasa Rumah Sendiri

Setiap orang pasti punya hobi dalam hidupnya, salah satu yang paling digandrungi anak muda saat ini adalah main game. Enggak cuma lewat smar
11,980 views 0 shares
10 Potret Nyeleneh Orang Lagi Ngadem

10 Potret Nyeleneh Orang Lagi Ngadem

Cuaca terkadang memang sedang tidak menentu. Ketika siang hari begitu terik, memasuki sore hari tiba-tiba hujan lebat. Ada yang mengatakan j
2,189 views 0 shares
10 Tipe Pacaran Orang Indonesia yang Bikin Kamu Ngakak Setuju

10 Tipe Pacaran Orang Indonesia yang Bikin Kamu Ngakak Setuju

Setiap orang pasti ingin memiliki hubungan khusus dengan seseorang. Ketika paham PDKT sudah dilewati, kita akan menuju tahap berikutnya yait
5,415 views 0 shares
10 Pekerjaan Ekstrim Dan Nggak Masuk Akal yang Dilakukan Para Pria

10 Pekerjaan Ekstrim Dan Nggak Masuk Akal yang Dilakukan Para Pria

Dari dulu, kaum pria selalu dianggap lebih kuat dari pada kaum hawa. Mereka bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih berat dari wanita karena m
64,644 views 3,509 shares