3600 detik ^^2
Loading...
 
posted on WOW Keren
978 views
3600 detik ^^2

Pelajaran olahraga adalah satu-satunya pelajaran yang menarik minat Sandra. Dia tidak perlu merasa bosan mendengarkan rumus-rumus aneh di dalam ruangan sementara semua orang memperhatikan sang guru.

Sandra lebih suka udara terbuka. Dan satu-satunya kesempatan hanya saat pelajaran olahraga. Dia memukul bola voli di tangan nya keras-keras. Bola tersebut melambung tinggi ke daerah lawan dan jatuh tanpa ada yang bisa mengembalikkan nya. Sandra tertawa.

Dia suka saat-saat seperti ini. Sandra menutup mata nya dan menghirup udara segar. Setelah itu dibuka nya mata dan tanpa sengaja tatapan nya beradu dengan seseorang. Si cowok pemain piano itu memerhatikan diri nya dari lantai dua gedung sekolah. Sandra tidak senang kalau ada orang yang diam-diam memerhatikan nya. Dibalas nya tatapan cowok itu dengan sinis. Sandra mengalihkan pandangan nya pada teman di sebelah
nya.
"Hei!" kata nya.
"Kau tahu nama cowok itu?"Teman nya, yang memang agak takut dengan perangai Sandra, langsung menjawab. "Ya. Leon!"Sandra menatap cowok yang bernama Leon itu sekali lagi dan memberikan tatapan peringatan pada nya.

Saat Sandra mendapat giliran untuk serve bola, dia melambungkan bola tersebut tepat ke arah muka Leon.Di lantai dua, dalam perjalan nya kembali dari toilet, Leon tidak menyangka akan melihat si Rambut Merah yang ditemui nya tadi pagi di lapangan voli. Ia menatap gadis itu. Namun gadis itu marah dan melambungkan bola ke arah nya.Sesaat sebelum bola tersebut mengenai muka nya, Leon menghindar. Bola tersebut jatuh tak jauh dari tempat nya berdiri.

Kemudian dia mengambil bola voli tersebut dan menatap si Rambut Merah. Dengan tenang dilemparkan nya bola tersebut pada nya sambil tersenyum, lalu masuk ke kelas nya.Sandra dengan segera menangkap bola tersebut dengan wajah kesal.
Pulang sekolah, Sandra terkejut melihat ibu nya sudah menunggu nya.
"Jadi, bagaimana hari pertamamu?" tanya Mama.
Sandra menatap ibu nya tanpa ekspresi.
"Kau masih tidak mau bicara sama Mama?"
Sandra tetap diam.
"Mama mengerti kau sedih. Tapi setidak nya bicaralah pada Mama. Sudah hampir satu tahun kelakuanmu tidak berubah. Mama peduli padamu!"
"Benarkah?" tanya Sandra.
"Ya! Tentu saja, Sandra! Bagaimanapun kau anak Mama!"
"Mama lebih peduli pada pekerjaan Mama daripada aku!" jawab Sandra ketus.
"Itu tidak benar!" kata Mama keras.
"Tentu saja itu benar! Itu sebab nya Papa pergi meninggalkan Mama!"
"Sandra! Cukup!"
"Mama ingin aku mengatakan perasaanku?" balas Sandra. "Oke! Aku tidak sedih, aku marah. Aku marah pada Papa karena dia meninggalkan aku, dan aku marah pada Mama karena membuatku tinggal di sini! Besok.Puas?"

Sandra berlari keluar sambil membanting pintu depan.
Dua jam kemudian, Sandra menatap diri nya di cermin kamar mandi sebuah mal. Dia baru saja menindik hidung nya dengan anting-anting kecil. Sandra yakin teman-teman sekolah nya akan sangat terkejut.

Sandra keluar dari kamar mandi dan berjalan-jalan di dalam mal. Dia melihat toko musik dan memasuki nya. Pandangan mata nya jatuh pada sebuah CD dan dia mengambil nya. Tiba-tiba saja Sandra mendapat ide. Dia akan membawa CD itu keluar dengan sengaja dan membiarkan diri nya tertangkap. Pasti Mama akan sangat marah pada nya.
Sandra keluar membawa CD di tangan nya Tiba-tiba seorang satpam menghampiri nya.

"Maaf." Kata nya. "Tapi anda belum membayar CD yang anda bawa!"
Sandra tersenyum manis. "Memang! Jadi kenapa?"
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak nya. "Di sini kau rupa nya!"
Sandra menatap orang yang menepuk pundak nya. Si pemain piano sekolah nya lagi.
Leon menatap Sandra sambil tersenyum. Dia sudah memerhatikan Sandra sejak tadi. Dia tahu Sandra melakukan hal tadi dengan sengaja.

"Maaf, Pak!" lanjut Leon. "Dia teman saya! Saya menyuruh nya membawakan CD ini ke kasir, tapi seperti nya dia kelupaan dan berjalan ke pintu keluar!"
Si satpam terlihat curiga. "Apa benar begitu?"
Saat Sandra mau bicara, Leon langsung memotong nya. "Ya benar! Lagi pula kalau dia memang berniat mencuri CD, kenapa dia tidak memasukkan nya saja ke tas biar tidak terlihat? Teman saya ini malah membawa nya secara terang-terangan."
Sandra benar-benar terlihat kesal. Leon mengambil CD di tangan nya.
"Kalau begitu saya bayar dahulu CD ini, Pak! Sekali lagi saya minta maaf!" Leon berkata dengan tulus. Pak satpam tersenyum pada nya.
"Tidak apa-apa!" kata nya.
Leon berjalan ke arah kasir.

Saat keluar dari toko musik, Sandra mencekal lengan Leon.
"Heh! Kurang kerjaan, ya?" teriak nya. "Untuk apa ikut campur urusan orang?"
Leon tersenyum. "Seharusnya kau bilang terima kasih dan aku akan membalas nya dengan bilang sama-aama!"
Sandra berkacak pinggang. "Dengar, ya! Aku tidak suka orang sepertimu! Aku hanya akan memperingatkan sekali ini saja! Jangan ikut campur urusanku, atau kau akan menyesal!"
Leon hanya berdiri dengan tenang.
"Heh! Dengar tidak?" teriak Sandra lagi.Leon menganguk.
Sandra memandang Leon dengan bingung. "Kenapa dia hanya diam seperti patung?" pikir nya.
"Kau ngerti maksudku nggak?" seru Sandra lagi.
Leon mengangguk untuk kedua kali nya.Sandra menjadi semakin bingung. "Mana suaramu? Kenapa sekarang kau cuma diam? Mendadak bisu, ya?"
Leon menggeleng.
"Jadi kenapa diam sekarang?"

Benar-benar orang aneh, kata Sandra dalam hati. Tadi di toko musik bicara panjang lebar, sekarang malah diam seribu bahasa.
"Kenapa? Kau sakit?" tanya Sandra, suara nya agak mlelembut.
Pertanyaan itu membuat Leon terkejut sejenak, akhir nya ia mengangguk.
"Pokok nya aku tidak mau kau ikut campur urusanku lagi!! Awas saja!"
Sandra pergi meninggalkan Leon.
Leon tersenyum kecil. Dia memasukkan CD tersebut ke tas nya lalu keluar dari mal. Tak berapa lama kemudian, Leon memasuki rumah sakit yang jauh nya hanya 500 meter dari sana.
"Dari mana saja kau?"
Seorang dokter menghampiri Leon dengan wajah panik.
"Jalan-jalan!" kata Leon."Leonâ?¦" kata dokter itu.
"Aku tahu tidak seharus nya aku kabur!" kata Leon. "Tapi aku bosan sama sekali! Maafkan aku, Pa!"

Sang dokter yang ternyata ayah Leon mendesah. "Tidak apa-apa! Lain kali kalau mau jalan-jalan bilang Papa dulu! Sudah makan belum?"
Leon menggeleng.Papa tersenyum. "Ayo, kita cari makan!"
Leon mengikuti langkah papa nya. Dia tahu dari teman-teman sekelas nya bahwa si Rambut Merah itu bernama Sandra.
"Apa yang membuatmu tersenyum-senyum seperti itu?" suara papa nya memasuki pikiran Leon.
"Aku bertemu seseorang yang istimewa hari ini!" kata Leon.
"Siapa?" Papa bertanya.
"Teman sekolah!" jawab Leon. "Dia anak baru!"
"Kau mau membicarakan nya dengan Papa?"
"Tidak! Nanti saja, bukankah sekarang waktu nya pemeriksaan?"
Papa mengangguk. "Ayo!"

Leon sudah mengenal rumah sakit ini sejak kecil. Sejak kecil ia sudah keluar masuk rumah sakit.
Bunga mawar merah di taman rumah sakit meningatkan nya pada rambut Sandra. Leon tertawa kecil. Entah mengapa ingatan akan Sandra membuat nya lebih rileks dalam menjalani pemeriksaan.
***

Suasana kelab di malam hari tampak ramai. Alasan satu-satu nya dia berada di sini adalah karena dia tidak ingin pulang ke rumah dan berhadapan dengan ibu nya. Dinyalakan sebatang rokok untuk melepas ketegangan. Sandra mencoba segala jenis merek rokok yang ditemui nya, tetapi tidak ada satu pun yang bisa mengobati rasa sakit nya.
Hati nya nyeri luar biasa. Dia tidak menyangka ayah nya akan setega itu meninggalkan nya dengan Mama. Mulai saat itu, Sandra tidak pernah percaya pada siapa pun.

Tiba-tiba pikiran nya melayang pada kejadian siang tadi di toko musik. Ada sesuatu yang aneh pada diri Leon yang tidak dimengerti oleh Sandra. Dilangkahkan kaki nya menuju lantai sanda. Selama satu jam dia bergoyang tanpa henti. Setelah puas, Sandra kembali ke tempat duduk nya.
Seorang pria menghampiri nya.
"Hai!" kata nya. "Goyanganmu boleh juga."
Si pria duduk di sebelah Sandra. "Mau ikut jalan-jalan denganku?"
"Tidak!" jawab Sandra ketus.
Si pria tersenyum menggoda. "Ayolah!" kata nya. Tangan pria itu memegang tangan Sandra. "Kau pasti tidak akan menyesal!"
Sandra menatap pria itu dengan tatapan tajam. "Lepaskan tanganmu!"

Ketika sampai di rumah, orang yang tidak ingin ia temui sedang menunggu nya di ruang tamu.
"Dari mana saja kau?" teriak Mama.Sandra tidak menjawab.
"Apa itu?" tanya Mama. "Kau menindik hidungmu?!"
"Ya!" kata Sandra. "Keren, kan?"
"Mama mau kau melepaskan anting-anting itu sekarang juga!" Ibu nya histeris.Sandra tertawa sinis. "Yeah! Aku juga mau Papa berada di sini! Tapi kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan?"
Sandra berlari ke lantai atas, ke kamar nya.
"Sandra!" teriak Mama sambil menyusul Sandra.
Sandra masuk ke kemar nya dan mengunci nya.
"Sandra! Buka pintu nya! Mama belum selesai berbicara!" Ibu nya menggedor-gedor pintu kamar Sandra.
"Tapi aku sudah selesai bicara!" balas Sandra.

Ia melihat foto keluarga nya di depan nya.Dibanting nya foto tersebut ke arah pintu sampai pecah berantakan. "Pergi!!" teriak nya. "Jangan ganggu aku lagi!"
Seketika itu juga suara gedoran berhenti.
Sandra naik ke tempat tidur dan tertidur tak berapa lama kemudian.

Pria tersebut malah menggenggam tangan Sandra semakit erat. "Oh! Kau mau sok jual mahal! Tidak apa-apa, aku suka kok cewek yang tidak gampang menyerah!"
"Aku bilang jangan sentuh tanganku!!!!" teriak nya pada pria itu.Sandra menarik tangan nya dari genggaman pria itu lalu berdiri. Sandra keluar dari kelab itu. Ketika melihat jam tangan nya, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Trending Now
10 Potret Kunci Pengamanan yang Nggak Punya Faedah Untuk Dipasang

10 Potret Kunci Pengamanan yang Nggak Punya Faedah Untuk Dipasang

Sangat wajar jika seseorang menyimpan barang yang ia punya dengan pengamanan ekstra agar terhindar dari pencurian. Nggak cuma mobil atau mot
52,075 views 171 shares
10 Postingan Medsos Emak-emak yang Nggak Ada Matinya

10 Postingan Medsos Emak-emak yang Nggak Ada Matinya

Siapa sih yang nggak tahu dengan kelakuan para emak-emak? bukankah truk dan bus yang menjadi raja jalanan, melainkan para magma yang pakai m
6,052 views 0 shares
10 Chat Lucu Pembeli Online Shop yang Bikin Gagal Paham

10 Chat Lucu Pembeli Online Shop yang Bikin Gagal Paham

Belanja online saat ini sudah menjadi primadona di kalangan masyarakat Indonesia. Apalagi disaat pandemi seperti sekarang ini, orang-orang y
3,691 views 0 shares
10 Pengumuman di Warung yang Bikin Pembeli Tersenyum Kecut

10 Pengumuman di Warung yang Bikin Pembeli Tersenyum Kecut

Di perkampungan ataupun di pinggiran kota, masih banyak kita temui di toko atau warung kelontong yang menyediakan bahan pokok dan kebutuhan
3,021 views 0 shares
10 Chat Lucu Typo yang Bikin Mikir Kemana-mana

10 Chat Lucu Typo yang Bikin Mikir Kemana-mana

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Membuat kesalahan adalah hal yang manusiawi, namun bukan kesalahan yang disengaja ya, melainkan kes
4,128 views 0 shares
10 Tulisan Orang Jualan yang Bikin Pembeli Mengernyitkan Dahi

10 Tulisan Orang Jualan yang Bikin Pembeli Mengernyitkan Dahi

Sudah menjadi hal yang lazim jika seorang pedagang membuat tulisan tentang apa yang mereka jual. Hal ini dilakukan agar para pembeli tahu da
4,629 views 0 shares
Ternyata Ada Ular yang Mati Karena Salah Makan Lho, Ngeri Ngeliatnya

Ternyata Ada Ular yang Mati Karena Salah Makan Lho, Ngeri Ngeliatnya

Tidak ada hewan yang memiliki tubuh yang begitu panjang dan kemampuan melata yang gesit, cepat, dan memiliki bisa yang sangat mematikan sela
439,996 views 11,656 shares
10 Hal Aneh yang Pernah Terjadi di Minimarket Indonesia

10 Hal Aneh yang Pernah Terjadi di Minimarket Indonesia

Di zaman yang sudah modern ini, minimarket selalu menjadi tujuan utama ketika kita ingin berbelanja secara cepat dan dekat dari tujuan. Di d
4,588 views 0 shares
Cewek Mungkin Memang Susah DImengerti Ya... Ini 24 Memenya, Yakin Bikin Kamu Ketawa

Cewek Mungkin Memang Susah DImengerti Ya... Ini 24 Memenya, Yakin Bikin Kamu Ketawa

Perlu ketelatenan dan kejelian membaca psikologi seseorang untuk benar-benar memahami cewek. Tentu saja, itu berlaku bagi kaum cowok kayakny
441,107 views 7,537 shares
10 Status Kurir Paket yang Isinya Bikin Kasihan

10 Status Kurir Paket yang Isinya Bikin Kasihan

Bagi sebagian orang online shop sudah menjadi hal yang lumrah. Apalagi bagi mereka yang tidak punya banyak waktu untuk berbelanja di luar ru
1,758 views 0 shares