Thalita ^^4
Loading...
 
posted on WOW Keren
617 views
Thalita ^^4

Junkies ...

Kata itu bergaung di telinga Thalita, dan untuk kesekian kalinya dia merasa ada yang merobek sesuatu dalam dirinya. Selalu begitu setiap dia mendengar kata itu disebut.


"Terus?" Thalita berusaha fokus kembali ke cerita Tatyana.
"Darren sayang banget sama cewek itu. Dia pernah nembak cewek itu, tapi cewek itu nolak Darren, di depan banyak orang! Sambil ketawa-ketawaâ?¦ dan bilang Darren itu nggak gentle karena nggak berani nyoba drugs, nggak berarti apa-apa buat diaâ?¦"
Drugsâ?¦
"Ya ampun, jahat banget!"
"Memang jahat banget tuh cewek! Untung sekarang Darren udah lumayan bisa ngelupain cewek itu, tapi yaâ?¦ sampai sekarang dia belum mau punya cewek. Gue rasa dia takut ditolak lagiâ?¦"
"Oh, gituâ?¦ Terus, gue bisa bantuin apa nih?" Thalita tanpa sadar menawarkan bantuan.
Tatyana menatap Thalita penuh harap. "Loâ?¦ mau bantuin?"
Thalita mengangguk, masih nggak sadar.
Tatyana sumringah. "Lo mau coba deketin Darren nggak?"
"Hah?"
"Kalau sama lo, gue dukung deh! Nggak tau kenapa, tapi gue ngerasa aja lo bakal cocok sama Darrenâ?¦ Dan walaupun kita baru kenal, gue ngerasa bisa percaya sama lo. Lo cewek yang baik, lucuâ?¦"

"Tapiâ?¦" Thalita memutar otak secepat yang dia mampu, baru nyadar sudah mengucapkan kata-kata yang salah tadi. "Kalauâ?¦ kalau Darren-nya nggak mau sama gue, gimana? Lagianâ?¦ gue baru kenal dia seminggu, Na. Gue nggak beraniâ?¦"
"Aduh, nyantai aja! Dia orangnya baik kok! Ayolah, Thaâ?¦ pleaseâ?¦"
` Thalita terdiam.
"Gue nggak minta lo jadian sama Darren kok. Gue cuma pengin lo dekat aja sama Darren. Jadi temen baiklah, atau temen curhat. Kalau pada akhirnya kalian bisa jadian atau nggak, gue nyerahin semuanya ke elo. Gue cuma pengin lo tau kalau lo dapat support total dari gue."

Thalita menghela napas, ada keraguan dalam dirinya. Apakah Tatyana sebenarnya punya maksud tersembunyi di balik semua ini? Karena rasanyaâ?¦ ganjil aja. Mereka kan baru kenal, tapi Tatyana bisa langsung menceritakan semua itu pada Thalita. Namun, Thalita berusaha positive thinking, dia nggak mau berburuk sangka sama orang lain. Nggak baik.
Dan, apakah dengan menyanggupi permintaan Tatyana ini, dia nggak akan mengkhianati Andra? Memang sih, secara status mereka sudah putus, dan Thalita juga nggak jadian sama Darren. Tapi kan tetap sajaâ?¦ Thalita dan Andra baru sebulan putus, rasanya terlalu diniâ?¦
Sayang, Thalita nggak tega melihat tatapan Tatyana yang kelihatannya mengharap banget itu.

"Iya deh, gue cobaâ?¦"
"Bener? Elo mau? Horeeeeâ?¦!!!" Seperti anak SD yang mendengar bel pulang sekolah, Tatyana langsung memeluk Thalita dengan gembira.
Gue melakukan ini hanya untuk menolong Tatyana, bukan karena gua suka sama Darren, Thalita berbicara dalam hati. Gue nggak mengkhianati Andra, batinnya, menenangkan kegalauannya sendiri.

***

"Bu, ada novel baru nggak?"
Bu Any, pustakawati SMA Persada Bangsa, mengangguk. "Ada dua, di rak sebelah sana. Kamu cari aja, baru dateng kemarin kokâ?¦"
"Penulis lokal atau luar?"
"Dua-duanya. Tapi karena masih buku baru, kalo mau pinjem cuma boleh dua hari."
"Oke. Nggak papa," Jawab Thalita sambil nyengir lebar. Dia sih cinta banget baca novel. Satu novel tebal bisa habis dibacanya dalam satu jam, jadi jangka waktu dua hari jelas bukan masalah.

Sambil menunggu Bu Any mencatat buku pinjamannya, Thalita mengedarkan pandangan ke sekeliling perpus. Kali ini dia bersyukur ortunya memaksanya masuk SMA Persada Bangsa. Gimana nggak? Perpus sekolah ini keren banget! Komplet, koleksi bukunya selalu up to date, bersih, sejuk karena AC yang selalu menyala, dan yang lebih penting, bisa baca buku gratis. Pokoknya benar-benar surga buat penggila buku seperti Thalita deh!
Pandangan Thalita terhenti pada reading corner, salah satu sudut perpus yang sudah disulap menjadi tempat untuk baca-baca, dan dia langsung melongo. Ada Darren di situ!

Thalita teringat janjinya pada Tatyana, dan langsung merasa bersalah. Sudah dua minggu sejak janji itu, tapi Thalita belum melakukan apa pun untuk memenuhinya. Dia bahkan berusaha menghindar setiap ketemu Darren. Tapi sekarang cowok itu ada di pojok sana, cuma beberapa langkah dari tempatnya berdiri, lagi baca koran dengan santainya.
"Thalita?" Bu Any menepuk-nepuk tangan Thalita, yang nggak sadar udah dipanggil sedari tadi.
"Ehâ?¦ oh iya, Bu. Kenapa?"
"Ini, bukunya sudah selesai dicatat."
"Oh iya, makasih ya, Bu."
"Iya." Bu Any lalu menyibukkan diri lagi dengan pekerjaannya, sementara Thalita melihat jam dinding di perpus dan tahu bel baru akan berbunyi lima belas menit lagi.
Just do it, Thalita! Thalita berusaha menyemangati dirinya sendiri. Now or never!

Akhirnya Thalita nekat juga berjalan ke arah reading corner, dan sok berani duduk di sebelah Darren. Ternyata cowok itu sedang baca koran terbitan hari itu, rubrik otomotif, dan Thalita masih nggak menemukan alasan untuk ngomong sama dia. Lalu pandangan Thalita tertuju ke koran rubrik olahraga yang ada di pangkuan Darren, tentang Piala Asia yang sudah mulai memasuki babak semifinal.
Yeah, gue prihatin sama Piala Asia, kata Thalita dalam hati. Bukannya Asia lebih besar dari Eropa? Tapi kenapa Euro selalu jauh lebih seru daripada Asian Cup?

"Lo mau pinjam?"
Thalita mengangkat kepalanya dari headline IRAK KE SEMIFINAL!, dan melongo menatap orang yang baru saja mengajaknya bicara.
"Loâ?¦ ngomong sama gue?" tanya Thalita nggak percaya.
"Ya ampun," Darren mengeluh, "gue nggak tahu lo ini lemot, telmi, atau apa, tapi kenapa sih lo selalu nggak nyadar tiap kali gue ngomong sama lo?"
"Oh, soriâ?¦," kata Thalita malu.
"Nggak usah sori segala. Lo kan nggak bikin salah apa-apa sama gue. Nih, mau pinjam, kan?" Darren menawarkan koran olahraga yang tadi ada di pangkuannya itu.
"Kokâ?¦?" kening Thalita berkerut. Memangnya siapa yang mau pinjam koran?
"Habisnya dari tadi lo ngelirik ke koran ini terus sih," potong Darren.
"Oh, iyaâ?¦ iya. Makasih, ya." Thalita nyengir salting. Ternyata Darren tau sedari tadi Thalita melirik koran olahraga di pangkuan cowok itu!

Thalita mengambil koran dari tangan Darren dan berpura-pura mulai membaca, tapi dia sama sekali nggak bisa menangkap apa isi berita yang dibacanya.
"Lo suka sepak bola juga, ya?" tanya Darren lagi. Thalita menoleh heran ke arah Darren dengan kening berkerut. "Eit, jangan tanya lagi apa gue ngomong sama lo apa nggak!" Darren memperingatkan.
Thalita tertawa. "Iya, suka."
Thalita nggak bohong, dia memang termasuk di antara segelintir cewek yang suka sepak bola.
"Suka liga apa?" tanya Darren.
"Inggris."
"Kok cewek suka bola sih?"
"Emangnya kenapa? Nggak boleh?"
"Ya aneh ajaâ?¦ soalnya cewek kan biasanya lebih seneng shopping, terus ngikutin trend, ke salon, ya gitu deh. Jarang aja ada cewek gibol. Ato loâ?¦ suka bola cuma karena pengin lihat pemain-pemainnya yang cakep itu, ya?"

"Eh, sembarangan ya!" omel Thalita tanpa sadar. "Memangnya cuma cowok apa yang ngerti soal offside, penalti, en segala macemnya itu? Gue juga ngerti! Memang sih, Liga Inggris pemainnya cakep-cakep, tapi kalo menang tampang doang, nggak bakal deh ada klub yang mau ngontrak."
"Nah, David Beckham itu? Dia kan dikontrak gara-gara tampangnya?"
"Tapi Beckham kan mainnya juga bagus! Kebetulan aja dia punya tampang oke!" Di luar kemauannya, Thalita jadi semangat sendiri. Dia memang paling nggak bisa tahan kalau ada orang yang sudah mulai membahas sepak bola.

"Dan istri yang selebriti, juga selingkuhan yang asisten pribadinya sendiri, serta tetangga seorang Tom Cruise, hahahaâ?¦" Darren tertawa.
"Kok lo jadi sentimen gitu? Sirik yaâ?¦?"
Darren menggeleng. "Ah, gue biasa aja kok. Tapi asyik juga ya ngomong bola sama lo, bisa nyambung. Padahal kita kan nggak saling kenal."
Thalita terdiam, sadar gara-gara topik bola tadi dia sudah SKSD. "Gueâ?¦ gue kenal lo kok! Lo kakaknya Tatyana, kan?"
"Itu namanya tahu, bukannya kenal." Darren tertawa geli. "Kalo kenal itu kayak gini lho."
Darren mengulurkan tangannya, yang dibalas Thalita dengan ragu-ragu.
"Gue Darren."
"Mmmâ?¦ Thalita."
"Nice name. Asal orangnya nggak suka ngelamun sendiri aja kalau diajak ngobrol, heheâ?¦ Lain kali ngobrolin bola lagi ya, udah jam masuk nih. Bye!"

Darren pergi, sementara Thalita kaget sendiri melihat jam di perpus yang memang sudah menunjukkan selesainya jam istirahat.
Aneh, bukannya waktu terasa berjalan sangat cepat hanya kalau kita melakukan hal yang benar-benar kita sukai? Kenapa waktu juga berjalan begitu cepat saat Thalita ngobrol sama Darren?
Apa itu berartiâ?¦ ngobrol bareng Darren bakal masuk daftar "sesuatu yang sangat disukai"-nya?
Thalita menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah ada lalat yang terbang mengitari kepalanya, dan dia sedang berusaha mengusir lalat itu. Nggak, pikirnya. Itu karena gue suka bola, dan kebetulan Darren juga, jadi kami ngobrolnya nyambung. Itu sama sekali bukan karena gue menikmati ngobrol sama Darren.
Thalita menghela napas, lalu bangkit dari situ dan berjalan menuju kelasnya.

* * *

Trending Now
10 Potret Kunci Pengamanan yang Nggak Punya Faedah Untuk Dipasang

10 Potret Kunci Pengamanan yang Nggak Punya Faedah Untuk Dipasang

Sangat wajar jika seseorang menyimpan barang yang ia punya dengan pengamanan ekstra agar terhindar dari pencurian. Nggak cuma mobil atau mot
52,019 views 171 shares
10 Postingan Medsos Emak-emak yang Nggak Ada Matinya

10 Postingan Medsos Emak-emak yang Nggak Ada Matinya

Siapa sih yang nggak tahu dengan kelakuan para emak-emak? bukankah truk dan bus yang menjadi raja jalanan, melainkan para magma yang pakai m
6,026 views 0 shares
10 Chat Lucu Pembeli Online Shop yang Bikin Gagal Paham

10 Chat Lucu Pembeli Online Shop yang Bikin Gagal Paham

Belanja online saat ini sudah menjadi primadona di kalangan masyarakat Indonesia. Apalagi disaat pandemi seperti sekarang ini, orang-orang y
3,666 views 0 shares
10 Pengumuman di Warung yang Bikin Pembeli Tersenyum Kecut

10 Pengumuman di Warung yang Bikin Pembeli Tersenyum Kecut

Di perkampungan ataupun di pinggiran kota, masih banyak kita temui di toko atau warung kelontong yang menyediakan bahan pokok dan kebutuhan
2,952 views 0 shares
10 Chat Lucu Typo yang Bikin Mikir Kemana-mana

10 Chat Lucu Typo yang Bikin Mikir Kemana-mana

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Membuat kesalahan adalah hal yang manusiawi, namun bukan kesalahan yang disengaja ya, melainkan kes
4,101 views 0 shares
10 Tulisan Orang Jualan yang Bikin Pembeli Mengernyitkan Dahi

10 Tulisan Orang Jualan yang Bikin Pembeli Mengernyitkan Dahi

Sudah menjadi hal yang lazim jika seorang pedagang membuat tulisan tentang apa yang mereka jual. Hal ini dilakukan agar para pembeli tahu da
4,238 views 0 shares
Ternyata Ada Ular yang Mati Karena Salah Makan Lho, Ngeri Ngeliatnya

Ternyata Ada Ular yang Mati Karena Salah Makan Lho, Ngeri Ngeliatnya

Tidak ada hewan yang memiliki tubuh yang begitu panjang dan kemampuan melata yang gesit, cepat, dan memiliki bisa yang sangat mematikan sela
439,972 views 11,656 shares
10 Hal Aneh yang Pernah Terjadi di Minimarket Indonesia

10 Hal Aneh yang Pernah Terjadi di Minimarket Indonesia

Di zaman yang sudah modern ini, minimarket selalu menjadi tujuan utama ketika kita ingin berbelanja secara cepat dan dekat dari tujuan. Di d
4,562 views 0 shares
Cewek Mungkin Memang Susah DImengerti Ya... Ini 24 Memenya, Yakin Bikin Kamu Ketawa

Cewek Mungkin Memang Susah DImengerti Ya... Ini 24 Memenya, Yakin Bikin Kamu Ketawa

Perlu ketelatenan dan kejelian membaca psikologi seseorang untuk benar-benar memahami cewek. Tentu saja, itu berlaku bagi kaum cowok kayakny
441,085 views 7,537 shares
10 Status Kurir Paket yang Isinya Bikin Kasihan

10 Status Kurir Paket yang Isinya Bikin Kasihan

Bagi sebagian orang online shop sudah menjadi hal yang lumrah. Apalagi bagi mereka yang tidak punya banyak waktu untuk berbelanja di luar ru
1,739 views 0 shares