Thalita ^^5
Loading...
 
posted on WOW Keren
637 views
Thalita ^^5

"Lo mau nggak jadi cewek gue?"
"Hah? Apa?"
"Lo mau nggak jadi cewek gue?" ulang Darren.
Thalita nyaris cegukan.

"Lo bercanda, ya?" tanyanya nggak percaya. Mana mungkin Darren nembak dia, mereka kan kemarin baru pertama kalinya ngobrol!
"Serius lahâ?¦ Seribu rius, malah!"
"Tapi kanâ?¦"
"Kenapa? Lo udah punya cowok?"
Thalita menggeleng. "Kok tiba-tiba lo nembak gue sih?"
"Memangnya kalo mau nembak harus pakai pemberitahuan dulu sebelumnya?"
"Eh, bukan gituâ?¦" kalimat Thalita terpotong. Darren tiba-tiba aja berjalan mendekat, dan semakin dekat. Thalita sampai bisa mencium bau aftershave-nya yang harum. Pelan-pelan Thalita menutup mata. Darren semakin dekatâ?¦

Tapi tiba-tiba hujan turun sangat deras, dan sekujur tubuh Thalita basah kuyup, padahal dia ada di teras rumah. Bukan cuma itu, Darren juga menghilang entah ke mana!
"Arrrrrrggggghhhhhhâ?¦!!!" jerit Thalita keras-keras. Bersamaan dengan itu matanya terbuka lebar, dan terdengar suara orang cengengesan.
"Makanya, kalau molor jangan kayak kebo! Dibangunin bukannya bangun, malah ngigo! "Lo bercanda, ya? â?¦ Tapi kanâ?¦ Kok tiba-tiba lo nembak gue sih?" Mimpi ditembak sama siapa lo?" Acha, adik Thalita satu-satunya, tertawa terbahak-bahak. Di tangannya ada sebuah ember merah besar yang masih meneteskan air ke lantai kamar.
"Gila lo! Lo guyur gue pakai air seember?!" tanya Thalita nggak percaya.
"Huahahaha! Nggak seember penuh kok, cuma setengahnyaâ?¦" Acha semakin terbahak melihat Thalita mengomel panjang-pendek. "Udah waktunya bangun, tau! Ada yang nyari lo tuh di bawah."

"Hah? Siapa?"
"Udah, lo lihat aja sendiri sana! Cepetan! Dia udah nunggu dari tadi! Lo sih, molornya nggak tanggung-tanggung!"
Thalita bingung sendiri, memangnya siapa yang datang? Masaâ?¦ Darren?

* * *

Ya Tuhanâ?¦ Kenapa dia?
"Aku ganggu, ya?" tanya cowok di depan Thalita itu. Thalita masih melongo dan nggak sanggup ngomong apa-apa saking kagetnya begitu tahu cowok itu masih berani muncul di rumahnya setelah semua yang sudah terjadi.
"Ngapain kamu ke sini?" desis Thalita marah. Dalam hati dia sedikit bersyukur karena saat ini siang bolong, jadi ortunya masih pada di kantor. Kalau mereka ada di rumah, Thalita jamin cowok itu bakal langsung ditendang keluar begitu menampakkan batang hidungnya di sini. Kemarahan Papa tempo hari sudah jadi bukti nyata bahwa kehadiran Andra sama sekali nggak diinginkan di rumah ini.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, Tha. Soal keputusanmu waktu itu. Kamu salah, nggak seharusnya kamuâ?¦"
"Keputusan yang salah tentang apa? Sejauh ini aku ngerasa semua keputusan yang aku ambil tentang kamu bener semua kok."

Andra menghela napas dan menatap Ibon, anjing peliharaan Thalita yang sedang berbaring malas-malasan di depan garasi. "Soal kamu nggak mau ketemu aku lagi."
"Nah, dari semuanya, aku rasa itu yang paling benar," kata Thalita tegas.
Andra mengalihkan pandangannya dari Ibon ke Thalita, dan Thalita cuma bisa bengong begitu menyadari betapa kurusnya cowok itu sekarang.

Kalau mau jujur, sebetulnya Thalita sedih banget waktu ortunya melarangnya untuk ketemu Andra lagi. Tapi di luar semua itu, dia tahu ortunya merencanakan yang terbaik. Mereka hanya nggak ingin Thalita terjerumus di dunia yang sama dengan Andra. Dan sekarang, saat Thalita sudah setengah jalan dengan keputusannya untuk menjauhi Andra, dia nggak mau semua usahanya jadi sia-sia. Dia harus tegas pada Andra, meski sulit dan sakit rasanya.
"Kenapa?" tanya Andra pelan.
"Aku nggak bisa percaya sama kamu lagi, Ndraâ?¦"
"Soal apa? Drugs itu? Thalita, akuâ?¦"
"Udah ya, Ndra, jangan dilanjutin. Aku nggak tau harus gimana sama kamu. Dari dulu kamu selalu janji bakal berhenti pakai drugs, selalu janji kamu nggak akan ngecewain aku lagi, tapi kenyataannyaâ?¦? Kamu ingkar janji terus. Dan aku nggak mau ambil risiko aku bakal terjerumus ke dunia yang samaâ?¦"
Susah payah Thalita menahan, tapi air matanya tak mau menurut. Ia menangis tersedu-sedu.
"Kamu malu punya pacar kayak aku?"
Thalita mendongak, tersenyum pahit. "Ya."
"Tha, pleaseâ?¦"

Thalita nggak menggubris permohonan Andra. Ia melanjutkan kata-katanya. "Aku malu punya pacar kayak kamu, yang nggak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Kamu lihat dong, Ndra, seperti apa kamu sekarangâ?¦ Kamu nggak seperti Andra yang aku kenal duluâ?¦"
Andra duduk di kursi dan mengatupkan kedua tangan ke wajahnya. Thalita sudah berusaha membuang muka, tapi dia masih tetap bisa melihat lipatan siku Andra yang penuh bekas suntikan. Dia bergidik ngeri.
"Thaâ?¦ aku minta maafâ?¦"
"Buat apa? Toh, kamu juga nggak bisa ninggalin drugs-mu itu biarpun aku sudah memohon ke kamu berkali-kali, kan? Kamu cuma bisa janji, tanpa menepati janjimu itu. Aku nggak bisa, Ndra. Ortuku sudah tau semua tentang kamu, mereka nggak setuju kita pacaran. Mereka bahkan nggak mau aku masuk SMA tempat kamu sekolah. Aku nggak boleh dekat-dekat kamu lagi. Dan aku tau, mereka sudah mengambil keputusan yang benar untukkuâ?¦"
"Tapiâ?¦ aku masih sayang sama kamu, Tha!"

"Sayang?? Hahaâ?¦" Thalita berusaha tertawa sesinis mungkin, padahal dalam hatinya sakit setengah mati. "Kalau kamu bener sayang sama aku, kamu nggak akan tega nyakitin aku! Kamu akan penuhi permintaanku untuk berhenti nge-drugs!"
"Drugs itu cuma karena aku kecewaâ?¦" Andra tiba-tiba mencengkeram bahu Thalita dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Mau nggak mau pandangan Thalita terpaku pada bekas-bekas suntikan di lipatan siku Andra lagi. Dia memejamkan mata.
"Kecewa sama siapa? Ortumu? Kamu kan dulu punya aku! Aku bisa bantuin kamu! Kamu minta pertolongan ke tempat yang salah, Ndraâ?¦ Kamu bahkan nggak mau berusaha demi kebaikanmu sendiri! Apa lagi yang harus aku perjuangkan, Ndra? Apa?!" Thalita menggigit bibir dengan getir. "Sori, tapi aku nggak mau ngomong sama kamu lagi."
Cepat-cepat Thalita melepaskan tangan Andra dari bahunya, lalu berlari ke kamar dan mengunci pintu. Dia menjatuhkan diri ke atas ranjang, dan menangis sejadi-jadinya.

* * *

"Thaâ?¦" Jennie membuka pintu kamar Thalita perlahan. Thalita mengangkat kepalanya dari bantal dan langsung menghambur memeluk Jennie.
"Jen, Andraâ?¦"
"Iya, gue tau. Udah ya, jangan nangis lagiâ?¦" Jennie membelai rambut Thalita lembut.

Tadi setelah Andra pulang, Thalita memang menelepon Jennie sambil menangis, dan sobatnya itu muncul di rumahnya kurang dari setengah jam kemudian.
"Kenapa dia muncul lagi? Padahal gue udah mulai bisa ngelupain diaâ?¦ Dia seharusnya tau kan kalo gue nggak mau ketemu dia lagi?"
"Mungkin dia masih sayang sama loâ?¦"
"Itu yang dia bilang, tapi tolong dehâ?¦ Sayang? Kalau dia sayang sama gue, dia pasti mau menepati semua janjinya! Tapi nyatanya? Dia lebih sayang sama semua drugs-nya itu! Lebih sayang daripada sama dirinya sendiri! Dia nggak tau kalau dia lagi bunuh diri pelan-pelan, Jenâ?¦" Thalita sesenggukan selama beberapa detik. Jennie masih terus memeluknya. "Gue masih sayang sama diaâ?¦ Sayang bangetâ?¦ Tapi gue tau, gue nggak akan bisa bertahan lagiâ?¦" Air mata Thalita jatuh lagi.
"Memang nggak semua yang baik itu menyenangkan ya, Tha? Tapi gue rasa, memang lebih baik lo kehilangan Andra, daripada lo ada dalam lingkup pergaulan yang berbahaya."
Thalita mengangguk dalam tangisnya.
"Lho, lho, ada apa ini?"

Thalita terlonjak kaget mendengar suara itu. Ia mendongak dan melihat Papa berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Kamu kenapa, Tha?" Papa berjalan masuk dengan wajah khawatir. Thalita cepat-cepat menghapus air mata yang mengalir di pipinya, tapi jelas dia tak bisa menyembunyikan juga mata sembap dan hidung merahnya dari Papa.
Karena nggak berhasil mendapatkan jawaban dari anaknya, papa Thalita menanyai Jennie.
"Jen, Thalita kenapa?"
Jennie terlihat ragu, tapi dia nggak bisa menghindar. "Nggâ?¦ anu, Oom, tadi Andra ke siniâ?¦"
Papa Thalita melotot. "Ngapain dia ke sini? Kamu yang nyuruh dia datang, Tha?"
Thalita menggeleng cepat. "Nggak, Paâ?¦ Aku juga nggak tau kenapa dia berani datang ke sini lagi, padahal aku udah ngelarang diaâ?¦"
"Anak ituâ?¦" Papa duduk di tepi ranjang Thalita, dan menghela napas dalam-dalam. "Dia masih mengganggu kamu?"

"Yah, dia masih suka nelepon, tapi nggak pernah aku angkat. SMS-nya juga nggak pernah aku balasâ?¦" Thalita teringat beberapa SMS dan telepon Andra yang diabaikannya sejak mereka putus. Mungkin karena itulah Andra nekat datang ke rumah, karena cara lain yang dilakukannya untuk mengajak Thalita bicara ternyata gagal. Thalita yakin, Andra juga pasti sudah memperhitungkan untuk datang siang hari, ketika Papa nggak ada, agar dia nggak diusir.
"Bagus, apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu harus berani menunjukkan ketegasan bahwa kamu nggak mau berurusan sama dia lagi."
"Iya, Pa, aku tauâ?¦ Aku juga tadi udah minta dia untuk nggak datang ke sini lagi."
Papa mengangguk. "Kamu pasti mengerti kan, kalau apa yang Papa lakukan ini untuk kebaikanmu? Tha, dan kamu juga, Jennie," Papa Thalita mengalihkan
pandangannya pada Jennie, yang menatap balik dengan ingin tahu, "narkoba itu berbahaya. Sekali kalian menyentuhnya, masa depan kalian akan hancur. Memang, ada segelintir orang yang berhasil melepaskan diri dari jeratan narkoba. Sembuh dan bersih setelah direhabilitasi. Tapi prosesnya sendiri pun bukan proses yang mudahâ?¦"

Papa Thalita terdiam sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan, "Ada teman Papa, anaknya kena narkobaâ?¦ Papanya benar-benar kecewa. Anaknya nggak hanya jadi pemakai, tapi diam-diam juga sudah jadi pengedar, dan itu membawa dia melakukan banyak hal jahat lainnya. Dia mulai berani minta uang secara paksa dari ibunya, untuk beli narkoba. Kalau nggak dikasih, dia mencuri. Uang kuliahnya juga dia embat untuk beli narkoba. Kuliahnya jangan ditanya, jelas berantakan. Anaknya jadi pembangkang, dan orangtuanya sudah nggak kuat lagi menangani dia. Akhirnya anak itu dikirim ke salah satu panti rehabilitasiâ?¦"

Kening Thalita berkerut. Papa nggak pernah cerita tentang ini sebelumnya.

Trending Now
10 Status Momen Apes yang Isinya Bikin Deg-degan

10 Status Momen Apes yang Isinya Bikin Deg-degan

Menjadi hal yang manusiawi ketika kita panik, akan merasa mulas, panas dingin, deg-degan hingga kehilangan konsentrasi. Biasanya momen panik
2,598 views 0 shares
Kasihan tapi Lucu! 10 Orang Ini Menerima Barang yang nggak Sesuai Ekspektasi Saat Belanja Online

Kasihan tapi Lucu! 10 Orang Ini Menerima Barang yang nggak Sesuai Ekspektasi Saat Belanja Online

Perkembangan teknologi memang sangat membantu kehidupan kita, salah satunya adalah kita bisa dengan mudah berbelanja secara online. Ada bany
539,806 views 20,089 shares
9 Cara Orang Makan Mie Instan yang Bikin Gagal Lapar

9 Cara Orang Makan Mie Instan yang Bikin Gagal Lapar

Beberapa orang gemar memakan mie instan. Selain karena mudah dibuat, mie instan juga bisa menemani kita kapanpun dan dimanapun. Apalagi pali
2,516 views 0 shares
Beginilah Foto Foto Pendidikan Ekstrim Menjadi Pramugari di China

Beginilah Foto Foto Pendidikan Ekstrim Menjadi Pramugari di China

Menjadi Pramugari mungkin bisa jadi salah satu idaman pekerjaan bagi banyak wanita, syarat penampilan fisik, kercerdasan, dan komukasi yang
340,635 views 16,685 shares
10 Foto Lucu Saat Orang Salah Kostum & Dandan, Kocak Parah

10 Foto Lucu Saat Orang Salah Kostum & Dandan, Kocak Parah

Saat menghadiri acara atau event tertentu biasanya ada dress code, baju, atau makeup yang disepakati buat dipakai, tapi gimana jadinya kalo
22,938 views 0 shares
10 Chat Kepolosan Pembeli Online Shop yang Bikin Gregetan

10 Chat Kepolosan Pembeli Online Shop yang Bikin Gregetan

Banyak alasan kenapa seseorang memilih berbelanja di online shop. Selain karena banyak pilihannya, harga yang ditawarkan online shop juga be
77,439 views 0 shares
10 Tulisan di Gerobak Jualan yang Isinya Nyeleneh

10 Tulisan di Gerobak Jualan yang Isinya Nyeleneh

Keberadaan pedagang kaki lima sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Di mana ada tempat keramaian, di situ sudah dipastikan ada orang-or
2,155 views 0 shares
10 Kisah Tawar-menawar ala Emak-emak yang Bikin Mules

10 Kisah Tawar-menawar ala Emak-emak yang Bikin Mules

Berbicara tentang tawar-menawar tidak jauh dari urusan jual beli, pasar dan ibu-ibu. Kenapa mereka berkaitan erat? Karena ibu-ibu sangat jag
10,413 views 0 shares
10 Chat Ditolak Gebetan yang Isinya Bikin Sedih tapi Ngakak

10 Chat Ditolak Gebetan yang Isinya Bikin Sedih tapi Ngakak

Buat yang masih dalam tahap PDKT dengan gebetan, pasti berbagai macam cara kamu lakukan agar mereka juga membalas rasa cintamu. Mulai dari m
8,642 views 0 shares
10 Chat Kocak yang Isinya Pamer Ini Bikin Ngakak

10 Chat Kocak yang Isinya Pamer Ini Bikin Ngakak

Berkat teknologi, orang komunikasi tanpa harus bertemu langsung dan bertatap muka. Cukup aplikasi chatting, kita bisa langsung menyampaikan
11,237 views 0 shares