Thalita ^^14
Loading...
 
posted on WOW Keren
781 views
Thalita ^^14

"Yuk, ikut gue," ajak Jennie, lalu menggamit tangan Thalita menuju salah satu pohon besar yang ada di dekat situ.
Mereka akhirnya duduk di bawah pohon itu, dan air mata Thalita, yang tadi dikiranya sudah habis terkuras, mulai menetes lagi.



"Gue rasanya pengin ikut mati aja, Jenâ?¦"
"Hush!" bentak Jennie. "Jangan ngomong yang nggak-nggak deh!"
"Tapiâ?¦ Andra mati gara-gara gueâ?¦ Kalau aja gue mau balik sama diaâ?¦ Kalau aja gue nggak berpura-pura Darren itu pacar gue di depan diaâ?¦"
Mata Jennie menyipit. "Maksud lo apa? Darren pura-pura jadi pacar lo di depan Andra? Gue nggak ngertiâ?¦"

Thalita mengangguk, lalu menceritakan semua kejadian di Coffee Bean PIM beberapa hari yang lalu. Kejadian yang menjadi awal segala petaka yang terjadi saat ini.
"Jadiâ?¦ menurut lo, Andraâ?¦ bunuh diri karena dia nggak terima lo punya pacar baru lagi, gitu?"
"Iyaâ?¦ Karena gue tau Andra, Jen. Dia nggak mungkin nyabu segitu banyak dalam kondisi normalâ?¦ Pasti dia lagi tertekan banget gara-gara gueâ?¦"
Jennie mendengus. "Cih! Kalau menurut gue, dalam kondisi normal dia justru nggak akan nyabu sama sekali!"

Thalita menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tapi tetep ajaâ?¦ semua ini gara-gara gueâ?¦ Gue yang udah membunuh Andra! Gue yang nyakitin dia! Padahal seharusnya gue selalu ada di sampingnya, terus mendorong dia untuk sembuh, bukannya menghindar dan jadi pengecutâ?¦"
"Tha, ini bukan salah lo!"
"Nggak! Gue yang salah! Andra mati karena guâ?¦"

Plaakk!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Thalita. Jennie berdiri dengan napas tersengal, memegangi tangannya yang baru saja menampar Thalita.
"Kenapa sih? Kenapa lo harus terus menyalahkan diri lo sendiri?!" tanya Jennie galak. "Andra mati itu sama sekali bukan salah lo, tau nggak?! Dia mati karena ketololannya sendiri! Siapa suruh dia nyabu? Siapa suruh dia nggak mau dengar omongan lo untuk rehab dari dulu-dulu? Kalau aja dia mau nurutin omongan lo, gue yakin kalian bakal bisa balik lagi! Andra tahu gimana harus memperbaiki kesalahannya, tapi dia toh lebhi memilih tetap berkubang dalam ketololannya sendiri!"

Thalita tersedu-sedu, sementara Jennie sudah selesai memuntahkan semua kekesalannya, dan sekarang sedang berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal.

"Maafin gue, Tha. Gue cuma nggak mau lo terus-menerus menyalahkan diri lo untuk kesalahan yang sebenernya sama sekali nggak lo perbuatâ?¦" Jennie berjongkok di depan Thalita dan memeluk sahabatnya yang sesenggukan itu.
"Tapi seharusnya gue nggak pura-pura punya pacar baru, kan? Gue tahu itu bakal nyakitin dia, tapi gue tetap ngelakuin ituâ?¦"
"Tuh kan, lo mulai nyalahin diri lo sendiri lagi," gerutu Jennie putus asa. "Lo nggak denger omongan gue yang tadi, ya? Gue tegasin lagi, Tha: ini semua BUKAN salah lo. Dan kalaupun Andra memang patah hati karena dia tau lo punya cowok baru, DIA SENDIRI yang salah, karena memilih semua drugs itu buat pelariannya. Mungkin aja lo memang membuat dia patah hati, tapi kalau dia nggak pakai drugs, dia nggak akan OD, kan? Got my point?"

Thalita menelan ludah dengan susah payah. Jennie memang bisa sangat galak kalau dia mau, dan jujur aja kali ini Thalita agak kaget karena tahu sahabatnya bahkan berani menamparnya. Tapiâ?¦ Thalita mulai bisa menerima kata-kata Jennie. Cewek itu benarâ?¦ Thalita bisa saja membuat Andra patah hati, tapi kalau Andra sendiri nggak memakai drugs, dia toh nggak akan OD.

"Gue ngerti kalau ada perasaan bersalah dalam diri lo, tapi terus menyalahkan diri nggak akan bikin Andra balik lagi, kan?" Jennie memegang bahu Thalita, dan berusaha supaya sahabatnya itu berani menatapnya.
"Iyaâ?¦" Bahu Thalita gemetar karena dia berusaha menghentikan tangisnya.
"Nah, jangan nyalahin diri lo lagi, ya? Emang begini jalannya, Tha, dan lo nggak perlu hidup dalam rasa bersalah."
Thalita mengangguk lagi, dan dia teringat sesuatu.
"Sekarang gue ngerti, apa arti mimpi gue malam ituâ?¦"
"Mimpi?"
"Iya. Sebelum gue ditelepon Darius yang mengabarkan Andra udah nggak ada, gue mimpi Andra datang ke rumah gue. Dia bilang bahwa dia udah bersihâ?¦ udah bukan junkies lagiâ?¦ Tapi waktu gue tanya apa dia janji nggak akan ninggalin gue lagi, dia minta maaf dan bilang dia nggak bisa menemani gue lagi. Lalu dia menghilang begitu saja, tersedot ke dalam terowongan hitam yang tiba-tiba muncul. Sekarang gue ngerti apa maksudnyaâ?¦ dia datang untuk pamitan dan minta maaf sama gue karena dia mau pergi dan nggak kembali lagiâ?¦"
"Ya Tuhan," gumam Jennie pahit.

"Gue nggak tahu harus bagaimana, Jenâ?¦ Gue masih nggak percaya gue nggak akan pernah ngeliat Andra lagiâ?¦ Gue nggak bisa percaya kali ini gue bener-bener kehilangan diaâ?¦"
Jennie terdiam, dia nggak tau harus ngomong apa lagi. Di mata Jennie, Thalita terlihat seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup.

"Yang tabah yaâ?¦ Ini pencobaan biasa kok. Tuhan kan nggak akan memberi percobaan yang melebihi kemampuan kitaâ?¦ Dan Dia pasti punya rencana di balik ini semua, rencana yang kita nggak tahuâ?¦"
Thalita menatap makam Andra sekali lagi, masih ragu apakah dia memang benar-benar akan kuat melalui ini semua. Kematian Andra seperti merenggut setengah hidupnya.
Apakah manusia bisa bertahan hidup hanya dengan setengah jiwa tersisa?

* * *

Papa memeluk Thalita dengan protektif ketika cewek itu tiba di rumah. Papa sudah tahu Andra meninggal. Tadi beliau menawarkan diri untuk menemani Thalita ke pemakaman, tapi gadis itu menolak.

"Sini, Tha, duduk siniâ?¦" Papa membimbing Thalita ke sofa ruang tamu, sofa yang sama yang diduduki Thalita ketika ia diceramahi, dan Papa mengusir Andra beberapa bulan lalu.
"Pa, Andra, Paâ?¦ Andra udah nggak adaâ?¦," kata Thalita dengan suara tercekat.
"Ya, ya, Papa tauâ?¦" Papa kini duduk di hadapan Thalita, dan menggenggam tangan Thalita lembut, sementara Thalita bisa merasakan pipinya mulai dibasahi air mata. "Pasti berat sekali untuk kamu."

Thalita mengangguk dalam tangisnya. "Aku kehilangan dia banget, Paâ?¦ Aku nggak akan bisa melihat dia lagiâ?¦"
"Tapi kamu sudah pernah berusaha untuk menyelamatkan dia, kan? Nggak ada yang perlu kamu sesali, Tha. Kamu sudah mencoba sebisa kamu, tapi Andra sendirilah yang akhirnya memutuskan mengambil jalan seperti ini."

Kata-kata Papa mirip kata-kata Jennie, batin Thalita pahit.
"Kamu salah jika kamu nggak pernah berusaha membantu Andra. Tapi kamu membantunya, kan? Berapa kali kamu memohon dia untuk masuk rehab, tapi dia nggak pernah nurut? Jangan salahkan dirimu, Tha. Papa tau ini berat, dan Papa nggak akan bilang "I"ve told you so", meskipun sudah sering Papa khawatir Andra akan berakhir seperti ini."
"Tapi diaâ?¦"

"Tha, ada hal-hal yang memang harus terjadi, supaya kamu belajar dari hidup ini. Papa nggak pernah mengharap ini akan kamu alami secara langsung, tapi dengan begini kamu bisa melihat sendiri, apa yang bisa direnggut narkoba. Andra masih muda, dan mungkin saja akan punya masa depan yang cerah jika dia nggak pernah mencicipi drugs. Dia seharusnya tau, kematianlah yang akan menantinya di ujung jika dia masih berurusan dengan barang haram itu. Tapi dia nggak berusaha lari jauh-jauh, dia malah mendekat pada kematian itu."

Thalita menyusut air matanya perlahan.
"Kehilangan orang yang kamu sayangi, apalagi dengan cara seperti ini, memang berat. Tapi dengan begitu, kamu akan lebih menghargai hidup yang kamu miliki, dan nggak akan mempertaruhkan diri untuk coba-coba narkoba, karena kamu tahu apa yang menunggumu nanti jika kamu melakukannya. Kuatlah, Tha. Papa yakin kamu bisa melalui semua ini."

Papa memeluk Thalita, dan Thalita merasakan kasih sayang, perlindungan, dan kehangatan, seketika melingkupinya. Ada rasa aman dan damai saat Papa memeluknya, dan ia benar-benar mensyukuri hal itu. Itu membuat jiwanya yang remuk seakan dilekatkan kembali.

* * *

"Thaâ?¦ ada tamu nih," panggil Mama sambil mengetuk pintu kamar Thalita lembut. Thalita masih tetap terdiam di atas ranjangnya, nggak bereaksi.
"Thalita, Sayang, ada tamu buat kamuâ?¦"
Mama terus mengetuk pintu kamar dan memanggil Thalita dari luar, tapi Thalita tetap saja diam. Dia nggak peduli akan apa pun lagi sekarang, karena Andra udah nggak ada. Untuk apa dia hidup? Kenapa dia masih hidup sampai sekarang, Thalita sendiri nggak tahu. Dia seperti terbunuh waktu tahu Andra meninggal, dan entah kenapa sekarang dia masih ada di sini dan bernapas.

Terdengar suara pintu kamar dibuka. Rupaya Mama sudah nggak sabar menunggu Thalita membuka pintu, dan akhirnya memutuskan membuka pintu itu sendiri.

"Tha, ada temenmu tuh nunggu kamu di luarâ?¦"
Akhirnya Thalita bereaksi. "Siapa?" tanyanya, tapi masih dengan terbaring di ranjang dan membelakangi Mama.
"Cowok. Dulu pernah datang ke sini buat ngerjain tugas sekolah kalau nggak salahâ?¦"

Thalita terenyak. Cowok? Yang dulu pernah datang ke sini untuk ngerjain tugas sekolah?
Darren?
Thalita bangun dari ranjang, dan menatap Mama kebingungan. "Orangnya kayak apa?"

Kalau benar Darren yang datang, Thalita benar-benar shock. Dia memang sudah beberapa hari ini bolos sekolah. Alasannya, dia merasa nggak akan sanggup melakukan apa pun dengan bayang-bayang Andra masih melintas di kepalanya, apalagi kalau hal itu adalah mengerjakan soal-soal matematika-fisika-kimia yang bikin para murid berpotensi mengalami kebotakan dini. Makan yang nggak pakai mikir aja Thalita nggak bisa, apalagi untuk sekolah yang harus memutar otak!

Ortu Thalita, yang sadar anaknya butuh waktu untuk menyendiri setelah kematian Andra, mengizinkan saja anaknya bolos. Percuma kalau anak itu masuk sekolah tapi nggak konsen. Lagi pula, kehilangan seseorang yang kita sayangi bukan sesuatu yang gampang dilalu, dan Thalita butuh waktu juga untuk memulihkan kondisi emosionalnya. Rumah jelas tempat yang paling baik untuk itu, daripada Thalita pergi ke sekolah tapi di jalan dia nyetir dengan serampangan karena perasaannya yang kacau? Nah, ortu Thalita nggak mau gambling dengan risiko itu.

Trending Now
9 Cara Orang Makan Mie Instan yang Bikin Gagal Lapar

9 Cara Orang Makan Mie Instan yang Bikin Gagal Lapar

Beberapa orang gemar memakan mie instan. Selain karena mudah dibuat, mie instan juga bisa menemani kita kapanpun dan dimanapun. Apalagi pali
67 views 0 shares
9 Pantun Gombal Paling Populer di Kalangan Anak 90-an Dulu, Masih Inget Gak Apa Saja?

9 Pantun Gombal Paling Populer di Kalangan Anak 90-an Dulu, Masih Inget Gak Apa Saja?

Pantun adalah sebuah seni dalam berbahasa yang cukup populer di ranah melayu dan Indonesia pulsker. Sedari dulu sampai sekarang pantun masih
26,713 views 1,795 shares
10 Chat Kocak Driver Ojol dengan Customernya Ini Berhasil Bikin Ngakak

10 Chat Kocak Driver Ojol dengan Customernya Ini Berhasil Bikin Ngakak

Ngomongin tentang ojek online emang nggak ada habisnya. Apalagi sekarang banyak yang membagikan pengalamannya saat bersama ojek online lewat
18,255 views 573 shares
10 Postingan Facebook Jual HP yang Lucunya Bikin Emosi

10 Postingan Facebook Jual HP yang Lucunya Bikin Emosi

Mungkin saat ini Facebook adalah media sosial yang paling banyak penggunanya di dunia. Jika dulu Facebook hanya memiliki fitur untuk update
566 views 0 shares
9 Status Bocah di Facebook Ini Bikin Miris Dan Tepuk Jidat

9 Status Bocah di Facebook Ini Bikin Miris Dan Tepuk Jidat

Jika melihat fenomena media sosial saat ini, isinya bukan hanya digunakan oleh orang-orang dewasa aja, tapi banyak sekali anak-anak di bawa
202,976 views 0 shares
Kasihan tapi Lucu! 10 Orang Ini Menerima Barang yang nggak Sesuai Ekspektasi Saat Belanja Online

Kasihan tapi Lucu! 10 Orang Ini Menerima Barang yang nggak Sesuai Ekspektasi Saat Belanja Online

Perkembangan teknologi memang sangat membantu kehidupan kita, salah satunya adalah kita bisa dengan mudah berbelanja secara online. Ada bany
494,347 views 20,089 shares
10 Chat Dikira Serius yang Endingnya Bikin Gregetan

10 Chat Dikira Serius yang Endingnya Bikin Gregetan

Saat ini berkomunikasi dengan orang lain memang sangat mudah. Nggak perlu bertatap muka secara langsung, cukup dengan chatting, maka apapun
488 views 0 shares
10 Komplain Barang Olshop yang Isinya Kasihan tapi Ngakak

10 Komplain Barang Olshop yang Isinya Kasihan tapi Ngakak

Online shop sudah menjadi pilihan alternatif bagi orang-orang yang malas ribet untuk berbelanja keluar rumah. Prosesnya juga dirasa cukup mu
2,265 views 0 shares
9 Potret Kocak Pasangan yang Gagal Romantis

9 Potret Kocak Pasangan yang Gagal Romantis

Ketika menjalin hubungan, nggak cuma cinta aja yang dibutuhkan, tetapi juga komitmen dan rela berkorban demi pasangan. Ini semua dilakukan t
1,235 views 0 shares
15 Foto Keren Ini Benar-Benar Nyata Tanpa Photoshop Lho!

15 Foto 'Keren' Ini Benar-Benar Nyata Tanpa Photoshop Lho!

Nggak perlu jadi fotografer profesional untuk mengambil gambar yang unik, keren dan menarik. Kamu juga bisa jadi fotografer terbaik dunia de
252,751 views 21,882 shares