Thalita ^^32
Loading...
 
posted on WOW Keren
864 views
Thalita ^^32

"Ya?" tanya Acha serius. Dia masih berharap Thalita mau cerita kenapa sekarang kakaknya itu sudah bisa menerima fakta bahwa Darren mencampakkannya.


"Kayaknya lo bener-bener nggak boleh baca Harlequin lagi dehâ?¦"
"Hah? Awas lo ya! Sialan! Kurang ajar!" Acha langsung meraih apa pun yang berada dalam jangkauannya dan melemparkannya pada Thalita. Thalita cuma bisa ngakak, kesenangan berhasil menjaili Acha lagi.

* * *

"Heiâ?¦"
"Thalita? How are you doing?" Jennie excited banget mendengar suara Thalita di telepon. Sudah lama banget Thalita nggak mengontaknya. Terakhir waktu Thalita curhat plus nangis bombai karena dicampakkan Darren. Jennie sempat berusaha mengontak Thalita beberapa kali lagi setelah itu, tapi Thalita seperti menutup diri. Bukan hanya dari dirinya, Jennie tahu, tapi dari orang-orang sekitarnya juga. Jennie kepengin menolong, tapi entah kenapa suara hatinya bilang untuk membiarkan Thalita sendiri dulu, seenggaknya sampai dia lebih tenang.

"Gue baik. Jen, ngggâ?¦ gue udah nggak marah lagi sama Darren."
Jennie bengong. "Kok?"
Thalita lalu menceritakan kejadian itu, gimana dia melihat Darren dan Cheryl di depan gerbang sekolah Cheryl, dan gimana dia seolah tersadar dia pun akan mengambil keputusan yang sama seandainya ada pada posisi Darren. Darren nggak salah, cowok itu justru sudah mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya dan Thalita.

"Tha, gue salut sama loâ?¦"
"Oya? Kenapa?"
"Lo udah bisa berpikir dewasa sekarang. Memang ini yang terbaik, Tha. Lo harus bisa maafin Darren. Jangan nyiksa diri lo sendiri dengan terus-terusan marah sama dia. Terus-terusan menutup diri loâ?¦ Lo harus bisa balik lagi seperti Thalita yang dulu. Tougher, kalau bisa."

Thalita tersenyum, biarpun dia tahu Jennie nggak bisa melihatnya.
"Yes, I will."

***

"Bapak akan bagi kalian dalam kelompokâ?¦ Satu kelompok dua orang. Tugas kali ini, temanya tentang Kasih Mula-Mula. Kalian bikin makalah dan presentasi tentang apa itu kasih mula-mula, dan bagaimana agar kita senantiasa memilikinya dan dapat mewujudkannya di dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai orang Kristen. Bapak juga mau kalian melakukan satu hal untuk mempraktikkan kasih mula-mula itu. Boleh kunjungan ke panti asuhan, melakukan kerja sosial, atau hal-hal lainnya. Nanti harus ada laporannya."

Thalita, yang sedang memasukkan buku-bukunya ke tas karena jam pelajaran hampir berakhir, langsung mendongak begitu mendengar suara Pak Lukas, guru agamnya. Kelompok? Oh tidakâ?¦ jangan-janganâ?¦

"Atau sebaiknya kelompoknya sama aja dengan yang di kelas satu dulu, ya?" tawar Pak Lukas.
"Setuju!" Verina mengangkat tangan dengan bersemangat. Ya iyalah, kalau kelompoknya sama dengan yang dulu kan dia bisa sekelompok lagi dengan Andika, pacarnya. Bisa kerja kelompok sambil pacaran!

"Aduh, jangan deh, Pak," rengek Rudy. Dia mengerling ke Gio yang duduk di arah jam lima dari bangkunya, dan bergulik sendiri. Dulu dia sekelompok dengan Menteri Penerangan alias biang gosip sekolah itu, dan benar-benar merepotkan! Amit-amit jabang baby deh kalau sekelompok lagi! "Diatur kelompok baru aja, Pak."

Pak Lukas menoleh menatap jam yang terpasang di dinding kelas. "Waktunya nggak cukup untuk buat kelompok baru. Kelompoknya sama saja seperti yang dulu. Ini tugas kelompok untuk minggu depan, makalah dan presentasi. Temanya ada di bab tujuh belas, oke?"

Tepat setelah Pak Lukas bilang begitu, bel pulang berdentang. Semua anak di kelas itu langsung membereskan buku dan alat tulisnya, udah kebelet kepengin pulang. Hanya Thalita yang tercenung di bangkunya. Kalau kelompoknya sama kayak dulu, berarti dia satu kelompok denganâ?¦ Darren.

Kelas nyaris kosong, waktu Thalita akhirnya sadar dari lamunan, dan berdiri dari bangku. Yah, sudahlah, mau gimana lagi? Ini kan untuk tugas sekolah, dan dia kan udah memaafkan Darren, jadi mungkin hanya akan terasa canggung nanti kalau mereka kerja kelompok. Nggak ada perasaan lainnya.

"Tha?"
Thalita menoleh. Tatyana ternyata belum ngabur dari kelas seperti yang lainnya. Sugeng juga. Dia pasti masih menunggu Tatyana.
"Ya?"
"Loâ?¦ nggak papa, kan? Sekelompok samaâ?¦" Tatyana terdiam, dia ingat, Thalita pernah memintanya untuk nggak menyebut-nyebut lagi nama Darren di depannya. It hurtsso bad, kata Thalita dulu.
"Darren?" Thalita membantu menyelesaikan kalimat Tatyana. "Nggak papa."
"Ohâ?¦ oke deh kalau gitu. Tadinya gue takut lo keberatan atau gimana, dan gue mau aja tukeran biar sekelompok sama lo, dan Sugeng sama Darrenâ?¦"

"Nggak papa, Na. I"m okay kok."
"Nanti kalau Darren rese, nyebelin, atau nyakitin bilang ke gue ya? Biar gue jambak tu anak!"
"Hehehe, iya gampang. Ya udah, kita pulang yuk? Mau jalan bareng ke parkiran nggak?"

* * *

Meski Thalita udah maafin Darren, dia masih canggung juga untuk ngomong sama cowok itu, biarpun dalam rangka ngebahas tugas kelompok agama mereka. Dia bingung gimana harus memulai pembicaraan, dan takutnya dikira masih ngarep kalau ia menawarkan rumahnya untuk tempat kerja kelompok. Tapi kalau minta di rumah Darren, ntar juga dikira masih ngarep. Serbasalah banget deh pokoknya. Jadi Thalita cuek aja, membiarkan Darren yang inisiatif membahas duluan.

Untungnya, Darren menangkap gelagat itu, dan siang itu dia nyamperin Thalita yang lagi baca TeenLit terbaru di reading corner perpus sekolah mereka. Tempat yang sama saat mereka pertama mengobrol dulu.
"Heiâ?¦"

Thalita mendongak, agak kaget melihat Darren, tapi lalu dia ingat, Darren pasti berniat membahas tugas kelompok mereka.
"Hei. Ada apa?"
"Ngâ?¦ gue mau ngebahas tugas kelompok kita."
Tuh kan. Bener. "Oh iya. Boleh. Gimana, gimana?"
"Ngâ?¦ mau kerja kelompoknya kapan? Di mana?"
"Terserah lo." Thalita mengedikkan bahu.
"Ohâ?¦ gitu ya. Sabtu siang aja ya kalau gitu? Di rumah lo?"

Bagus, dia yang pilih tempat, jadi Thalita nggak perlu takut dianggap masih ngarep atau apa.
"Sounds good."
"Loâ?¦ nggak ada acara kan, hari Sabtu?"
Thalita mengernyit. Apa maksudnya? Apa Darren bermaksud menyelidiki apa dia ada acara malam mingguan? Apa dia sudah punya pacar lagi, gitu maksudnya?"
"Bukannya gue yang seharusnya nanya gitu ke lo?" tanya Thalita.
Darren salting. "Ngâ?¦ bukan gitu maksud gue, tapiâ?¦ Ya udahlah, sampai ketemu hari Sabtu ya."

Dan Darren pergi dari situ, mungkin sudah nggak tahan dengan suasana yang canggung. Thalita menghela napas. Hhhâ?¦ kalau sekarang mengobrol lima menit begini aja mereka serba-salting, gimana besok Sabtu saat kerja kelompok, ya?

* * *

"Ngapain lo ke sini???"

Thalita nyaris terlompat dari kursinya gara-gara mendengar teriakan Acha barusan. Sialan Acha, geramnya dalam hati, ngapain sih siang bolong gini jerit-jerit?! Bikin kaget aja!

Thalita nyaris melanjutkan membaca buku yang tadi dibacanya sebelum terkaget-kaget karena teriakan Acha, waktu dia menyadari sesuatu. Jangan-jangan yang Acha teriakin tadiâ?¦

Thalita kontan melempar bukunya ke sofa, dan berlari menuju pintu depan. Dugaannya benar, di depan pagar Acha sedang berkacak pinggang dan memelototi Darren.
"Kok setelah yang lo lakuin ke Thalita, lo berani nongol lagi di sini?!" bentak Acha. "Mau cari mati ya lo?! Nggak tau malu! Kalau aja badan lo nggak lebih gede dari gue, udah gue banting lo!"

Thalita melongo, dan secepat kilat berlari ke pintu pagar.
"Chaaa, stop, Cha. Stoooop!" Thalita berdiri di antara Acha dan Darren, seolah sedang melerai perkelahian yang seru. "Jangan ribut-ribut gini ah. Nggak enak didenger tetangga."

"Biarin aja! Biar semua orang tau, gimana brengseknyaâ?¦ cowok ini!" Acha menuding Darren dengan bernafsu. Thalita menoleh, berusaha mencari tahu ekspresi Darren. Cowok itu terlihat bingung, ada sedikit rasa pasrah yang terpancar di wajahnya. Mungkin dia memang sudah menduga bakal mendapat kelakuan seperti ini kalau bertemu anggota keluarga Thalita.

Mungkin seharusnya kerja kelompoknya di rumah Darren, batin Thalita. At least Tatyana nggak bakal mendamprat gue di depan rumahnya kalau gue datang ke sana, seperti yang dilakukan Acha sekarang.

"Cha, udahlahâ?¦ Darren dateng ke sini buat kerja kelompokâ?¦"
"Hah? Kerja kelompok? Lo masih mau, kerja kelompok sama dia?! Yang bener aja, Tha!"
"Bukan mau gue. Gurunya yang nentuin kelompok, puas? Udah, lo masuk aja sana deh." Acha diam di tempatnya, pasang tampang seperti anak kecil ngambek yang dilarang main keluar oleh ortunya karena harus tidur siang, tapi lalu dia masuk rumah dengan langkah kaki mengentak-entak kesal.

"Sori ya," kata Thalita setelah Acha pergi. "Gue lupa bilangin Acha kalau lo mau datang. Nggâ?¦ tepatnya, gue lupa lo mau datang."
"Nggak papa, Tha. Wajar dia marah kayak gitu. Setelahâ?¦ apa yang gue perbuat sama lo."
Thalita menggeleng kecil. "Masuk yuk."
Darren mengangguk, dan memasukkan motornya ke carport rumah Thalita. Mereka lalu berjalan ke dalam rumah.

"Bentar ya, gue ambil laptop dulu. Lo duduk aja." Thalita meninggalkan Darren di ruang tamu, dan beranjak ke kamar mengambil laptopnya.
"Kayak dulu aja, lo yang cari bahan, gue yang nyusun, gimana?" tawar Thalita setelah ia kembali sambil membawa laptop.
"Oke."

Darren duduk di sofa dan menyalakan laptop, sementara Thalita ke dapur untuk mengambilkan minum. Udara gerah banget siang ini, Darren pasti hausâ?¦

Eh, kok gue jadi merhatiin dia? pikir Thalita gusar. Dia kan bukan pacar gue lagiâ?¦ Yah, anggap aja gue melakukan ini karena gue tuan rumah yang baik. Masa tamu nggak dikasih minum?

Waktu Thalita kembali ke ruang tamu, Darren sudah asyik surfing bahan tugas di Internet. Thalita duduk di sebelah Darren, tapi sengaja menyisakan space di antara mereka. Dua menit pertama, dia memperhatikan aja apa web-web yang dibuka Darren. Dua menit berikutnya, dia sudah mulai gelisah, dan mengambil majalah Mama entah tahun berapa yang ada di rak di bawah meja tamu. Tapi baru sebentar membolak-balik halaman majalah itu, Thalita sudah bosan.

Rasanya aneh banget, berada satu ruangan dengan mantan pacar, dengan kebisuan yang mencekik.

Trending Now
10 Komplain Barang Olshop yang Isinya Kasihan tapi Ngakak

10 Komplain Barang Olshop yang Isinya Kasihan tapi Ngakak

Online shop sudah menjadi pilihan alternatif bagi orang-orang yang malas ribet untuk berbelanja keluar rumah. Prosesnya juga dirasa cukup mu
1,843 views 0 shares
9 Potret Kocak Pasangan yang Gagal Romantis

9 Potret Kocak Pasangan yang Gagal Romantis

Ketika menjalin hubungan, nggak cuma cinta aja yang dibutuhkan, tetapi juga komitmen dan rela berkorban demi pasangan. Ini semua dilakukan t
560 views 0 shares
15 Foto Keren Ini Benar-Benar Nyata Tanpa Photoshop Lho!

15 Foto 'Keren' Ini Benar-Benar Nyata Tanpa Photoshop Lho!

Nggak perlu jadi fotografer profesional untuk mengambil gambar yang unik, keren dan menarik. Kamu juga bisa jadi fotografer terbaik dunia de
252,144 views 21,882 shares
10 Chat Minta Nomor WhatsApp yang Isinya Modus Banget

10 Chat Minta Nomor WhatsApp yang Isinya Modus Banget

Setelah tumbangnya BBM pada BlackBerry, WhatsApp mendominasi semua Smartphone untuk dijadikan aplikasi chatting. Ya, hampir semua pengguna s
27,570 views 0 shares
9 Meme Sindiran Semua Akan Strory Pada Akhirnya

9 Meme Sindiran 'Semua Akan Strory' Pada Akhirnya

Baru-baru ini Twitter mengeluarkan fitur baru dalam aplikasinya, yaitu fitur story yang bisa kita gunakan sama seperti yang ada di Instagram
1,247 views 0 shares
Banyak yang Bilang Deretan Seleb Hollywood Ini Mirip Tokoh Kartun Disney, Menurutmu Mirip Gak?

Banyak yang Bilang Deretan Seleb Hollywood Ini Mirip Tokoh Kartun Disney, Menurutmu Mirip Gak?

Orang-orang di dunia terkadang memiliki kesamaan satu dengan yang lainnya. Kalau kembar dan lahir dari satu ibu atau dalam satu keluarga itu
58,836 views 2,553 shares
10 Chat Nggak Nyambung yang Endingnya Ngeselin

10 Chat Nggak Nyambung yang Endingnya Ngeselin

Beruntunglah, karena kehidupan kita saat ini sudah terbantu oleh adanya teknologi. Terutama dengan adanya internet dan smartphone. Komunikas
5,923 views 0 shares
10 Kisah Konyol Salah Beli yang Bikin Ngakak

10 Kisah Konyol 'Salah Beli' yang Bikin Ngakak

Sebagai anak yang berbakti, sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong orang tua. Entah itu Ayah, ibu atau kakak. Tapi yang namanya manusia
2,317 views 0 shares
10 Barang Yang Dijual di FB Ini Bikin Gagal Paham

10 Barang Yang Dijual di FB Ini Bikin Gagal Paham

Belanja online saat ini sudah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi menarik dikarenakan proses belanja online
142,223 views 0 shares
10 Chat Ngajak Kenalan yang Ujungnya Bikin Ngakak

10 Chat Ngajak Kenalan yang Ujungnya Bikin Ngakak

Teknologi membuat kehidupan kita jauh lebih mudah dari dulu. Terlebih lagi masalah komunikasi, dimana kita bisa menghubungi orang yang kita
1,259 views 0 shares