Canvas 01.
Loading...

... Aku pasti bermimpi.

Itu yang ku pikirkan, aku tidak percaya apa yang barusan aku lihat tadi. Benar-benar aneh.

Sekali lagi aku memikirkan lukisan bunga sakura itu, aku merasa lebih tenang dan normal, lukisan itu benar-benar membuat hati-ku tenang.

Aku kembali melukis, tapi dikejutkan oleh suara.

"Kau melukis?"

Badanku gemetaran, kemudian aku melihat ke belakang-ku.

'Tidak ada siapa-siapa.' gumamku.

Kemudian aku kembali melukis.

"Hei, masa kau tidak melihat-ku?"

Suara itu kembali muncul entah darimana asalnya, kemudian didepan mataku ada tangan melambai-lambaikan.

"Hoy.. aku disampingmu."

Kemudian aku menoleh ke arah sampingku, anak laki-laki tadi.

"W-Whoaa!" aku terjatuh dari kursiku.

Dia memberikan tangannya padaku.

Aku meraih tangannya dan berdiri, setelah berdiri wajahku tepat didepan wajahnya.

Mataku terkunci dengan matanya, warna biru.. sebiru laut.

"Hey? Kenapa kau melamun?" tanya anak laki-laki itu.

"A-a! Go-Gomennasai! Aku tidak pernah melihat-mu sebelumnya."

'Namun aku mengenal aura dan warna mata ini.' suara hatiku berkata.

Mulanya anak laki-laki itu terlihat kecewa, namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman.

"Hey, kenapa kau melukis?"

"Karena aku ingin bertemu seseorang yang telah memberi-ku semangat untuk hidup."

"Semangat.. ? Untuk hidup? Kau pernah berpikiran untuk mati?"

"Iya, sejenak aku memikirkannya karena aku muak dengan kehidupanku yang sekarang ini. Aku sendirian."

Tiba-tiba angin berderu kencang, suara apapun tidak dapat terdengar,

"..." (A/N: Anak laki-laki itu berbicara namun tidak bisa terdengar, akan dijelaskan di chapter selanjutnya.)

Kemudian anak laki-laki itu menutup mulutnya dan pipinya memerah.

"Huh? Barusan kau bilang apa?"

"Tidak ada apa-apa!" seru anak laki-laki itu.

Aku menghela nafas dan melanjutkan melukis, tapi rasanya, selama aku melukis, dia terus melihat ke arah ku ..

-To Be Countiuned.