Wave 02.
Loading...

Dalam sekejap, si kembar demon tadi terbakar dan Jun mendapat 3 gems.

"Cuman 3 gems?! Demon yang memiliki lv 156 seharusnya, sekarang kita bisa langsung pulang!"

Kemudian Jun mencibir dan cemberut.

"Jika kita menggunakan senjata, mungkin kita memang sudah bisa pulang." ucap Reon sambil memperbaiki kacamatanya.

"Ahh.. aku baru ingat, itu pasti gara-gara rasa jijik yang dirasakan kulit leherku, jadi sponta aku menggunakan kekuatan mataku.."

Kemudian jun menggaruk bagian belakang kepalanya sambil tertawa gagap.

"Baiklah butuh waktu berapa jam lagi kita sampai di Phoenix Resident?"

Kemudian Reon menjawab,

"12 jam lagi."

"Kita mesti tidur di pohon lagi..? Yah.. aku sudah terbiasa." ucap Jun.

Kemudian tiba-tiba sebuah bumerang melintas secara cepat sehingga membuat sebuah sayatan yang lumayan panjang di pipi Jun. Sekarang pipinya berlumuran darah yang mengalir dengan cepat.

Jun menghela nafas,

"Siapa yang punya bumerang .. keluarlah."


...

Tidak ada jawaban, terpaksa Jun mengatakan sesuatu,

"Terpaksa aku menggunakan kekuatan mataku tadi, ternyata pemilik bumerang ini ingin sekali terbakar."

... Tidak ada jawaban.

Jun kemudian mengambil nafas dan menutup matanya-

"Ok, stop! Aku keluar!"

Sosok anak laki-laki dengan warna rambut blonde dan bola mata hijau, cukup menawan bagi semua fangirl (*termasuk Kazue/Author).

"Kau manusia?" tanya Reon dengan suara yang berat.

"Tentu, aku sama seperti kalian namaku, Henry!"

Senyum lebar menghiasi wajahnya,

"Baka, Henry-senpai."

Seorang gadis dengan rambut berwarna ungu dan bola mata berwarna merah memiliki katana di pinggangnya. Terlihat lebih serius dari Henry.

"Namaku Hunter." ucap gadis tadi memperkenalkan dirinya.

"Hunter? Itu bukan nama." ucap Jun sambil melakukan flip hair dengan rambutnya yang berwarna hitam.

"Mulai sekarang kita satu grup." ucap Henry dengan senyum lebar-nya.

"Kami menolak." jawab Jun sambil melihat ke arah Hunter dan Henry.

"Nande?" tanya Henry.

"Hanya akan menambah beban, kami masih perlu mencari gem yang banyak. Lakukanlah kerjaan kalian sendiri atau-"

"GRAOOO!!"

Seekor naga berkepala dua.

"Dragon?"

"Dragon lv 546." ucap Jun dan Hunter bersamaan, keduanya melihat satu sama lain, kemudian tersenyum (*tepatnya sebuah smirk.)

"Bazooka!" suara Jun menggema di headphone-nya, kemudian sebuah Bazooka cukup besar muncul di kedua tangannya.

"Shhh..!" suara katana yang berusaha menusuk dalam-dalam di mata dragon yang kiri. Damage 546, 123987877 damage lagi.

"Yang satu ini cukup tangguh, Giant!" Henry menyentuh kalung liotin hijau di lehernya dan kemudian muncul satu lagi monster.

'Mereka cukup hebat, tapi tidak akan menandingi mataku.'

'Musnah.' satu kata muncul di pikiran Jun, dan kemudian matanya bersinar hijau. Sebelum bersinar,

Reon yang tidak mau kalah kemudian melepas kacamatanya, bola mata birunya bersinar.

Damage.. tidak usah ditanya, damage nya lebih dari sisa damage yang diperlukan.

Sekejap Dragon itu berubah menjadi abu.

"Lihat! Kita cuma dapat 100 gem! Dan kita harus bagi dua dengan mereka, 50 gem!" seru Jun mengeluh.

Reon memasang kembali kacamatanya,

"Bukankah sudah pernah ku bilang, aku tidak mau kau terluka?"

"Huh?"

-To Be Countiuned.