Rotkäppchen ? #0
Loading...
 
posted on Cerita Fiksi
329 views
Rotkäppchen ? #0

Cuaca sangat tidak bersahabat kala itu. Hujan yang sangat deras mengguyur seluruh desa South Halton dan sekitarnya, diwarnai pula dengan kilat dan gemuruh yang bersahutan.
Apa yang diceritakan oleh alam benar-benar cocok dengan suasana hati para penduduk desa. Para pria bersenjatakan tombak dan pedang menodong pada sesosok serigala yang terperangkap pada jaring jebakan. Bukan hanya para pria, para wanita dan anak-anak juga turut menyaksikan di tengah desa. Tak peduli meski gaun mereka basah, tak peduli meski mereka akan mengepel rumah besar-besaran nantinya, melihat tewasnya serigala ini adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi mereka. Serigala itu tidak memberontak, tidak seperti binatang liar. Ia membiarkan tubuhnya terbaring di tanah berselimutkan jaring. Ia bukanlah serigala liar, melainkan manusia--sebut saja serigala jejadian.
"Enyahlah kau, dasar makhluk jelmaan iblis!".
"Cepat penggal saja kepalanya!".
"Bunuh dia! Bunuh dia!".
Tak henti-hentinya para penduduk melontarkan kalimat-kalimat kutukan ditambah sumpah serapah kearah serigala itu. Tetap serigala itu tidak bergeming, ia seolah paham bila segala caci maki mereka pantas untuk ia dapatkan. Ia seolah merelakan bila kepalanya akan dipisah dari jasadnya tidak lama. Juga seolah ia siap membayar nyawa beberapa orang yang telah direnggutnya, meski tidak sepenuhnya. Si serigala memejamkan matanya, ia menunggu saat ia tak lagi merasakan tubuhnya, saat malaikat mencabut nyawanya dengan cara yang paling kasar.
Seorang pemuda bertubuh bak seorang barbarian berjalan dengan tegasnya seraya menenteng sebuah kapak di pundaknya. Setiap langkahnya menghasilkan percikan-percikan air pada tanah desa. Mimik wajahnya menunjukkan amarahnya yang kini benar-benar tengah membara, hingga bahkan hujan pun tidak mampu memadamkannya. Giginya gemertak, urat-urat pada lengan besarnya menampakkan dirinya keluar. Ia berjalan dengan gagah mendekat pada si serigala, berhenti ketika dirasanya cukup untuk mengangkat kapaknya dan mengeksekusi si serigala. Ia tidak langsung mengangkat kapaknya, sejenak ia diam menatap serigala itu. Begitupula si serigala, makhluk itu kembali membuka matanya dan menatap kearah si pria yang siap menjadi malaikat mautnya.
"Aku akan kembali." Kalimat singkat terucap dari moncong sang serigala, suaranya parau seperti seorang pria yang lehernya tercekik. Si pria tidak bisa jelas mendengar ucapannya, ia juga tidak bisa membaca bahasa moncong serigala. Kini, tanpa sedikit keraguan, ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi. Si serigala kembali memejamkan matanya, seraya si pria menghantamkan kapaknya pada tenggorokan si serigala, memisahkannya dari raganya.
---
Lima tahun sudah berlalu semenjak peristiwa itu terjadi. Sejak itu pula, setiap malam pertama pasar musim semi dan pasar musim gugur, South Halton selalu menggelar sebuah perayaan. Perayaan itu dimana mereka menari-nari diiringi alunan musik mengelilingi api unggun raksasa, seolah di dalam api unggun itu ada manusia serigala yang dibakar. Mereka meluapkan segala rasa syukur dan kebahagiaan atas berakhirnya teror berdarah dari sang serigala jejadian. Hampir tidak ada satupun dari mereka yang bersedih kala itu, semuanya tersenyum dan tertawa senang.
Perayaan yang penuh kebahagiaan ini tentu tidak akan dilewatkan oleh Karlstein bersaudara. Ralph, Rudolph, dan Arrah mengenakan sandangan terbaik mereka, kemudian bersiap meninggalkan pondok kayu sederhana mereka untuk bergabung dengan para penduduk South Halton. Mereka memang tidak menggunakan pakaian yang mahal, hanya pakaian biasa yang mereka buat sendiri. Termasuk Ralph dan Rudolph, yang mereka kenakan adalah pakaian formal jahitan mereka sendiri. Kini, tiga bersaudara itu berjalan beriringan menuju pusat South Halton. Lumayan jauh, mengingat rumah Karlstein bersaudara sedikit lebih terpencil kedalam hutan. Berkat jalan setapak yang dibangunkan khusus untuk mereka, Karlstein bersaudara jadi mudah untuk mendapat akses menuju South Halton.
Seperti perkiraan mereka, suasana perayaan selalu ramai seperti tahun-tahun sebelumnya. Para penduduk South Halton terlihat tidak pernah bosan akan perayaan seperti ini. Ralph dan Rudolph menepuk pundak adik gadis mereka bersamaan, "Bersenang-senanglah.", lalu mereka memisahkan diri mencari pasangan dansa masing-masing.
Sejenak, Arrah berdiam diri disana. Ia mulai mengambil langkah-langkah pelan sembari mengelilingkan pandangannya mencari seseorang, Lenzhard. Mustahil bila Lenzhard tidak menghadiri perayaan ini, tidak mungkin juga bila ia kini tengah berdansa dengan seorang lain. Arrah percaya bila Lenzhard menantinya, ia percaya bila Lenzhard tidak akan meninggalkannya begitu saja.
"Hey Lenny, itu dia sudah tiba." Octav menyenggol lengan Lenzhard yang tadinya akan meneguk minumannya. Segera, Lenzhard melarikan pandangannya kearah kerumunan, mencari sosok yang dimaksud Octav.
"Mana dia?".
"Disana, dungu! Siapa lagi gadis bersurai seputih susu yang akan hadir disini bila itu bukan Arrah?", Octav menepuk keras punggung Lenzhard dengan telapak tangannya yang besar seolah mendorongnya untuk segera bangkit dari barel tempatnya duduk dan menghampiri dewinya disana, "Majulah dan mulai berdansa!".
Dorongan keras Octav membuat tubuh Lenzhard terhuyung kedepan dan hampir kehilangan keseimbangannya. Sekilas, Lenzhard melayangkan ringisan pada pria pirang bertubuh garang itu, sebelum akhirnya ia bergerak menghampiri Arrah disana. Setelah sosok Lenzhard hilang ditelan keramaian, Octav beralih pada sosok pria di sebrang tempatnya duduk, Silas.
"Adikmu sungguh luar biasa, bukan begitu Silas?".
Silas Leanarde Granville tidak begitu memberi respon. Ia hanya menatap Octav dengan tatapannya yang tajam, kemudian kembali menghadap pada gelas minumannya. Pria itu adalah sesosok yang tidak pernah dilihat senyumannya, wajahnya selalu nampak kaku juga dingin seperti tatapannya. Pria berjanggut tipis itu usianya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Lenzhard, ia masih muda dan menawan.
Lenzhard berusaha menembus lautan manusia untuk meraih lengan Arrah yang tidak jauh lagi bisa dijangkaunya. Begitu ia berhasil mencengkram lengan Arrah dan merasakan kulitnya yang halus, mereka sejenak saling menatap. Lenzhard bagai terpikat dengan penampilan gadisnya yang berbeda dari biasanya, begitu juga yang dirasakan Arrah. Senyuman lembut merekah pada bibir Lenzhard seperti setiap mereka bertemu, jari-jarinya menyusup pada surai Arrah dan membelainya lembut penuh kasih.
"Kau terlihat menawan malam ini." Puji Lenzhard dengan suaranya yang selalu terdengar lembut dan nyaman ketika masuk ke sepasang telinga milik Arrah. Pipi Arrah seolah merona dibuatnya, ia berharap Lenzhard tidak melihatnya karena kondisi di sekitar mereka remang-remang dengan hanya api sebagai penerangan.
Arrah menghinggapkan kedua tangannya pada kedua pundak Lenzhard, begitupula Lenzhard yang mulai merangkul pinggang ramping gadisnya. Mereka kembali saling menatap, kemudian bergerak mengikuti irama musik yang dimainkan; ceria dan memancarkan kebahagiaan, membuat mereka berdansa dengan gerakan-gerakan yang nampaknya cukup menguras tenaga. Mereka sepertinya akan melakukan gerakan-gerakan dansa itu hingga perayaan selesai, hingga musik-musik berhenti bermain. Tidak sedikit penduduk yang menyanjung Lenzhard dan Arrah ketika mereka tengah berdansa, beberapa pasangan bahkan mencoba menyaingi mereka. Tawa dan senyuman semakin membara di wajah para penduduk, semuanya. Melupakan segala kesedihan dan masalah mereka.
Namun tidak bagi Silas. Kebahagiaan dan senyum mereka sama sekali tidak tertular pada sosok pemuda itu. Ia seperti terpikir akan sesuatu penting yang sepertinya mampu meredam segala kebahagiaan ini dalam sekejap, tetapi ia memutuskan untuk tetap menyimpannya dalam kepala agar hal itu tidak terjadi. Iris ruby miliknya teralih pada Octav yang entah sedang meneguk gelasnya yang keberapa, meski tidak memanggil, Octav menyadari bila Silas ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Serigala itu akan kembali dalam waktu dekat", Silas menopang dagunya dengan kedua punggung tangannya yang ia satukan, "Aku serius. Aku merasakan perasaan yang sama seperti lima tahun lalu.".
Octav ingin menyemburkan tawa keras-keras akan pernyataan Silas, tetapi ia menahannya sebisa mungkin. "Aku yakin kau tidak bodoh, Kawanku! Serigala itu kepalanya sudah dipenggal, tentu saja ia tidak akan kembali!" Sanggah Octav dengan yakin.
Silas tidak kesal. Ia memaklumi bila orang tidak mempercayai ucapannya karna apa yang ia nyatakan adalah hal yang sepertinya mustahil di benak mereka. South Halton tentu tidak ingin Teror mengerikan itu terjadi lagi untuk kedua kalinya, mereka tentunya tidak ingin kehilangan keluarga-keluarga mereka. Silas menghela nafasnya pelan, kemudian mengalihkan pandangannya kearah keramaian di sisi kirinya. Pandangannya tertuju pada Lenzhard yang tengah berdansa disana.

Trending Now
10 Orang yang Berfoto di Depan Kamera dengan Gaya Menggelitik

10 Orang yang Berfoto di Depan Kamera dengan Gaya Menggelitik

Jaman dulu mengabadikan momen melalui foto adalah hal yang mewah. Kita harus memiliki kamera terlebih dahulu agar bisa menciptakan momen mel
6,446 views 0 shares
10 Momen Apes Dibonceng Motor yang Bikin Deg-deg an

10 Momen Apes Dibonceng Motor yang Bikin Deg-deg an

Musim hujan telah tiba. Ada pepatah mengatakan jika "sedia payung sebelum hujan". Hal itulah yang harus kita persiapkan ketika musim hujan t
18,285 views 0 shares
Beginilah Wajah 14 Karakter Princess Disney di Dunia Nyata

Beginilah Wajah 14 Karakter Princess Disney di Dunia Nyata

Pulsker yang suka banget sama kartun karya Disney mana nih suaranya? Kartun dari Disney emang ga ada matinya ya Pulsker, meskipun udah kuli
308,752 views 23,460 shares
14 PLAT NOMER KENDARAAN UNIK DAN LUCU DI INDONESIA

14 PLAT NOMER KENDARAAN UNIK DAN LUCU DI INDONESIA

Indonesia tidak kalah kreatif dalam memilih nomer cantik, entah itu nomer telpon ataupun plat nomer. Meskipun biayanya mahal tapi tetap saja
288,114 views 7,312 shares
10 Status Orang Ambil Foto di Google yang Bikin Malu

10 Status Orang Ambil Foto di Google yang Bikin Malu

Awalnya media sosial tercipta untuk hiburan semata. Menyenangkan, kita bisa bermain media sosial hingga mengenal banyak orang di dunia maya.
598,614 views 0 shares
PENEMUAN-PENEMUAN WOW Jepang Yang NYELENEH tapi CERDAS Luar Biasa!

PENEMUAN-PENEMUAN WOW Jepang Yang NYELENEH tapi CERDAS Luar Biasa!

Jepang! gak abis-abis ngomongin negara nyelempit mirip kue semprit dan bermata sipit ini. selain terkenal dengan kekuatan agresinya pada mas
291,744 views 7,283 shares
10 Spanduk Pecel Lele yang Isinya Nyeleneh

10 Spanduk Pecel Lele yang Isinya Nyeleneh

Setiap orang pasti punya makanan favoritnya masing-masing.cara membuat orang Indonesia, biasanya makanan yang bikin lahab adalah lalapan dan
10,636 views 0 shares
10 Chat Kocak Orang Tua dengan Anak Ini Bikin Senyum-Senyum Sendiri

10 Chat Kocak Orang Tua dengan Anak Ini Bikin Senyum-Senyum Sendiri

Jaman sekarang, dengan adanya kemajuan teknologi kita bisa dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain tanpa bertemu langsung dengannya. K
579,157 views 2,710 shares
Ngakak ! Korban Iklan Ini Ngga Sesuai Sama Kenyataan!

Ngakak ! Korban Iklan Ini Ngga Sesuai Sama Kenyataan!

Iklan memang salah satu sarana promosi dalam strategi pemasaran produk. Sehingga sangat wajar dalam sebuah iklan, yang ditampilkan pastilah
442,715 views 17,421 shares
10 Tulisan Peraturan yang Isinya Ngaco Banget

10 Tulisan Peraturan yang Isinya Ngaco Banget

Biasanya peraturan dibuat agar hidup kita lebih teratur dan terarah. Peraturan sendiri ada yang tertulis maupun tidak tertulis. Peraturan te
5,130 views 0 shares